Saya mencintai malam. Entah mengapa, kala malam saya merasa lebih kreatif--bahkan terkadang lebih produktif. Acap kali saya menemukan ide untuk menulis di malam hari. Malam memberi saya ruang untuk mengeksplorasi segenap nuansa hati... Mungkin karena malam nyaris selalu sunyi.
Dalam kesunyian malam saya selalu bisa jadi diri sendiri. Sejujur-jujurnya, sebenar-benarnya. Tak ada topeng yang menempel di wajah, tiada dusta yang perlu terucap. Juga tiada perlu merawi kata sekedar untuk memberi jawab terhadap pertanyaan-pertanyaan yang terlalu menggelisahkan [sebab, tidakkah terkadang kita mesti berterima bahwa ada banyak pertanyaan yang tak kita tahu jawabnya..?]. Malam memberi saya kesempatan untuk menggeledah pikiran saya dan mengurai benang-benang kusut persoalan yang sedang saya hadapi. Dingin tubuh malam menjadi penyejuk untuk beragam gundah yang terkadang berujung marah.
Namun ada kalanya malam terasa sangat bising. Ketika yang lalu datang mengunjungi pikiran: mengendap pelan seperti hantu-hantu telanjang kaki, merayap mendekati... Lalu sekonyong-konyong menabuh genderang memori tepat di dekat kuping. Membuat saya terbangun kaget, dan lantas mengutuki kegaduhan di hati.
Ah, malam...
Di mana sunyimu..?
8 Januari 2008 ; 02.22
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment