Hidup adalah pilihan. Saya sangat percaya dengan kalimat itu.
Memang terkadang kita merasa bahwa kita tak punya pilihan. Ada situasi-situasi yang terasa sangat kelam, hingga membuat kita terjebak dalam kesesakan. Seakan tembok-tembok di sekeliling kita merapat dan menghimpit. Mengungkung tubuh dalam kurungan yang sempit. Namun dalam kondisi sulit, sungguhkah kita tak punya pilihan?
Sempit, sesak, ingin teriak--tapi suara tercekat. Mungkin anda pernah juga merasakannya. Dan kalau sudah begitu, sulit rasanya berpikir tentang pilihan. Tapi bukankah kita bisa memilih, dengan perspektif apa kita memandang tiap persoalan? Ketika kita terpuruk kemiskinan, tidakkah ada orang lain di sekitar kita yang lebih tak punya apa-apa. Ketika kita ditikam kepedihan, bukankah di sekitar kita ada juga orang yang disayat derita. Ketika kita tenggelam dalam kesakitan, bukankah ada orang lain yang sekarat pelan-pelan... Dan ketika prahara hidup mengobrak-abrik kenyamanan kita, tidakkah bisa kita lihat orang lain yang terhempas badai ke jurang nista.
Perspektif. Ya, terkadang mengalihkan perspektif kita dari penderitaan yang kita alami sendiri ke ruang hidup yang lebih luas bisa mengubah cara kita memandang masalah yang kita hadapi. Bagi saya, kemampuan dan kesadaran untuk memilih perspektif mana yang kita pakai dalam memandang tiap-tiap persoalan adalah kekayaan yang tak ternilai harganya. Inilah yang menjadi pilihan yang sesungguhnya: Keluasan pikiran dalam sempitnya himpitan ruang.
Saya yakin, bahkan dalam gelap yang paling hitam kita semua masih punya pilihan: Kita bisa mengutuki kekelaman... atau kita bisa menyalakan terang.
Opto, ergo sum.
Aku memilih, maka aku ada.
5 Januari 2008 ; 17.08
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment