Alkisah di suatu malam yang senyap, Abu bin Amir pulang ke rumah yang ia tinggali sendirian. Sesampai di sana, ia tertegun, sebab dilihatnya sesuatu yang bercahaya menyala di dalam. Ia merasa takut, namun kemudian memberanikan diri memasuki rumah mungilnya itu.
Ketika ia membuka pintu, dilihatnya sosok serupa manusia. Sosok itu diliputi sinar lembut yang berpendar dalam kegelapan. Malaikat Tuhan tengah duduk di sudut ruang, nampaknya ia sedang menuliskan sesuatu.
"Wahai malaikat, sedang apakah engkau di gubukku yang kumuh ini?" tanya Abu bin Amir penuh heran.
"Aku sedang menuliskan daftar nama manusia yang mencintai Tuhan." malaikat itu berkata dengan suaranya yang jernih.
"Betapa berbahagianya mereka!" seru Abu bin Amir. "Malaikat, sudikah engkau memberitahuku, adakah namaku tercantum di dalamnya?"
"Tidak." jawab malaikat itu singkat.
Abu bin Amir menundukkan kepalanya dengan lara, namun ia tak lantas hanyut dalam kecewa. "Wahai engkau yang diliputi cahaya, maukah engkau menuliskan namaku sebagai seseorang yang mencintai sesama manusia?" pintanya dengan suara lirih, sarat dengan asa.
Malaikat itu mengangguk, sejenak kemudian sosoknya lenyap perlahan.
Keesokan malamnya, sang malaikat kembali menampakkan dirinya di rumah mungil Abu bin Amir, di tangannya ia membawa selembar daftar, "Inilah nama-nama manusia yang dicintai Tuhan," serunya.
Nama Abu bin Amir tercantum di deret pertama.
5 Februari 2008 ; 17.45
Catatan:
Dikisahkan ulang dari sebuah cerita tradisional Timur Tengah yang pernah kubaca entah kapan dan di mana; pun entah judulnya apa. Agak religius, memang, tapi aku sungguh menyukai inti ceritanya: Sebelum seseorang menyatakan dirinya mencintai Tuhan [atau apapun yang ia anggap sumber kehidupan], hendaknya ia belajar mencintai sesama manusia.
Namun aku heran, mengapa malaikat itu numpang bekerja di rumah Abu bin Amir? Tidakkah ia memiliki workstation-nya sendiri?
Tuesday, February 5, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comments:
Mungkin si malaikat itu sudah menerapkan konsep "Small office home office". Di mana paradigma kantor di gedung atau bangunan khusus sudah mulai ditinggalkan... ;p
Post a Comment