Wednesday, March 12, 2008

Cinta Mati

Aku mencintainya. Aku tahu itu, kala kulihat jingga senja, di latar cakrawala yang berpendar lembut membelai rasa. Mataku meneteskan haru cinta ketika kulihat rerumput rebah penuh rela ditengah terpaan angin yang berderu mencekam udara.

Sungguh, aku mencintainya. Walau tak pernah ia mau menatapku sekerling saja. Aku merindukannya: Menginginkan sapaannya sekedar untuk menunjukkan bahwa aku cukup pantas berada bersamanya. Ah, sungguh aku ingin ia merasakan juga hadirku seperti hatiku yang tak putus didekap kasih untuknya.

Tapi ia acap membuatku meneteskan air mata. Aku mengharap perhatiannya, mengharap sedikit saja kasih sayangnya. Dan yang kudapat hanya deraan ketidakpedulian yang menyiksa. Ya. Menyiksa. Sebab ia membiarkan orang-orang yang mengaku lebih mencintainya merampas hakku, menghantuiku dengan teror tak berkesudahan yang menghempaskanku dalam pilu.

"Mengapa..? Mengapa..?" tanyaku pedih. Tanya yang ditelan angin melarut dalam gelap tiada akhiran. Ia tak pernah menjawabnya. Tidak pula memandang mataku kala aku meratapkan duka.

Aku mencintainya. Walaupun seorang penyair jumawa sempat lantang berteriak murka tentangnya; menyeru bahwa ia memalukan. MEMALUKAN! Itu katanya. Aku tak peduli. Aku tetap mencintainya sepenuh hati.

Aku mencintainya seperti embun yang rela menguap bersama cahaya tiap kali mentari pagi datang menyapa. Aku mencintainya bersama nyanyian burung-burung gereja. Aku mencintainya seperti dedaunan yang ikhlas menyerpih menjadi humus penyubur tanah gersang. Aku mencintainya bersama pepohonan yang tetap tegak di tengah badai tanpa lindungan. Aku mencintainya seperti gemeretak kayu bakar yang rela menjadi abu demi memberi hangat. Aku mencintainya dengan tubuh yang penuh luka. Aku mencintainya bersama air mata.

Aku mencintainya.

...dan orang-orang tertawa. Aku dungu, kata mereka. "Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah peduli! Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah memberimu arti." Begitu seru mereka.

Aku tetap mencintainya.

...serangkaian pulau yang dinamai Nusantara. Sebuah bangsa yang sedang dirundung duka. Negara dan bangsa yang mengadopsi nama Indonesia. Aku mencintainya. Cinta mati. Sungguh.




12 Maret 2008 ; 18. 04

9 comments:

Daniel said...

Cinta mati? Kau yakin? Karena kudengar tak hanya engkau yang mencitainya. Ada orang lain yang nyatanya turut mencintainya pula. Yakin kau berbagi?

dyanti said...

Nah, itulah, Bung.. Nampaknya cinta mati yang ini mesti aku bagi.. Tak apa, tetap cinta.

Gyarra said...

May I enjoy your poem and your other blogs because I am kind of really like them all. Even sometimes, I re-write them on my log book, so I can read that to my children in my class. Thanks for sharing through your beautiful writing and poetry. I wish I could meet you. Perhaps you have a plan to travel to Manila or Cebu?

Regards,
Gyar

ceritacerita said...

Salut dengan nasionalisme mu, aku juga cinta nusantara, tapi cinta bersyarat hahaha!. Kalo punya peluang ganti kewarganegaraan, ya kuganti, tentunya dengan penawaran yang harus jauh lebih baik dari yang kudapat disini. Bukan karena aku tidak cinta nusantara, tapi aku gak yakin nusantara ini akan bisa dikelola dengan baik. Egois yaa dirikuu. Emaang hehehehe. Lagipula mencintai tidak harus selalu mendiami. Kita masih bisa mencintai dengan berbagai cara

dyanti said...

Betul, mencintai bisa dengan berbagai cara.. Yang aku lakukan hanya salah satu serpihan kecilnya. Mari kita cintai bersama dengan cara yang berwarna.. supaya nusantara lebih kaya.

*.*

zen said...

untuk cinta yang satu ini, pernah patah hati? atau (merasa) bertepuk sebelah tangan, mungkin?

dyanti said...

Pernah.. Berulangkali, malah.
Namun entah, tetap cinta.

sonn said...

ada joke ketika tuhan menciptakan indonesia, malaikat nanya:

"kok negeri itu indah banget, iklimnya bersahabat, sumber daya alamnya bagus? ga adil dong dengan negeri-negeri lainnya..." (fyi, tuhan sebelumnya nyiptain negeri2 di eropa, afrika, dsb, dsb)



terus tuhan jawab sambil nyengir:

"liat nanti pas gw ciptain orang-orang di dalamnya.."


oh, well :D

Dyanti said...

Hmmm... how true... ^_-