Ketika Hidup mengambil sesuatu darimu, berikanlah lebih banyak padanya.
Hari ini, kata-kata itu terus terngiang di telinga yang menempel di hati saya. Bukan tanpa sebab, tentunya. Ya, saya sedang merasa kehilangan; walau sesungguhnya mungkin rasa ini hanya cerminan paranoia. Namun saya juga menyadari, bahwa semua yang saya 'miliki' saat ini hanyalah pinjaman sementara: Hidup akan mengambilnya kembali suatu hari.
Masih bisakah saya memberikan lebih pada Hidup? Semoga saja. Sebab saya pernah berhadapan dengan kenyataan itu. Sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan, ketika cahaya dan keindahan terenggut nyaris tiada sisa; meninggalkan rasa pahit di lidah yang tak mau pergi untuk waktu yang lama. Dalam situasi itu saya tak tahu lagi apa yang bisa saya berikan pada hidup.. sebab saya kira saya tak lagi punya apa-apa.
Ketika itu, satu-satunya sahabat saya adalah kepahitan, terkadang dibumbui air mata. Seakan serpih-serpih hidup saya berserakan tanpa arti, dan kegelapan akan berlangsung abadi. Tapi Hidup punya cara yang aneh untuk memperlihatkan kerahimannya, suatu malam sepulang kerja saya melihat seorang gelandangan duduk di trotoar jalan. Ternyata ia tak sendiri, ada seorang anak kecil berbaring di dekatnya. Kepala si anak tergolek di pangkuan gelandangan itu; anehnya, wajah anak itu nampak gembira, tak ada kepedihan di matanya.
Lampu lalu lintas menyala merah, saya punya sedikit waktu memperhatikan dua gelandangan itu. Nampaknya si gelandangan yang lebih tua sedang bercerita pada si anak. Entah apa yang ia ceritakan, tapi saya sungguh ingin ikut mendengarkan. Sebab mereka nampak sangat larut dalam kisah itu.. dan mereka bisa tertawa. Lantas saya dibenturkan pada sebuah kesadaran, bahwa kepedihan bukanlah milik saya seorang diri, kepedihan adalah milik dunia. Dan jikapun saya merasa tak lagi punya apa-apa untuk diberikan pada Hidup, sesungguhnya saya masih punya sesuatu untuk dipersembahkan: Saya masih bisa berkisah, saya masih bisa membuat seseorang terhibur, tersenyum, tertawa. Sungguh ini sebuah benturan dahsyat bagi saya saat itu. Rasanya seperti ditabrak bis antar kota Jaya Langit jurusan Bandung-Bekasi.
Ah, ternyata hidup tak merenggut segalanya, Ia hanya menukar saja: Kesenangan sementara ditukar dengan pelajaran berharga. Selepas malam itu, sayapun belajar berkisah, belajar bercerita, belajar membuat orang tertawa. Bekal saya cuma setetes harapan, semoga saja jika saya bisa membuat seseorang tertawa, terhibur dan bahagia -- seorang saja setiap harinya -- suatu hari nanti kepedihan tak lagi jadi milik dunia; sebab semua ruang sudah padat diisi senyum dan tawa. Dan siapa tahu, sayapun boleh ikut tersenyum bersama dunia.
Harapan itu masih terpelihara. Sampai sekarang.
3 Maret 2008 ; 22.44
Monday, March 3, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

3 comments:
Baiklah. Namun mengapa bis antar kota Jaya Langit jurusan Bandung-Bekasi yang kau pilih?
Hahaha, soalnya bisnya ngebut dan tidak nyaman [menurut pengakuan teman yang suka bolakbalik Bandung-Bekasi]. Jadi bis itu memang berpeluang sembarang nabrak orang.
"jangan pernah minta apa yg memang tidak diberikan hidup." saya lupa dari mana kalimat itu tiba-tiba berdesing di kepalaku waktu baca tulisanmu ini.
Post a Comment