Dalam perjalanan hidup kita berpapasan dengan banyak peristiwa. Ada yang membawa tawa, ada juga yang datang bersama air mata. Untaian bahagia dan derita, serupa dengan nyanyian-nyanyian yang tersusun dalam sebuah medley: kadang dengan perpindahan nada yang rapi dan mengalun halus, kadang menghentak mengejutkan jiwa.
Adakah makna di balik tiap peristiwa? Saya yakin selalu ada. Dan saya cukup percaya bahwa perjalanan hidup adalah sebuah maraton panjang pencarian makna; sebab tak semua yang termaktub di jalan hidup bisa terbaca oleh mata.
Betapa lapang hati seseorang ketika ia dapat mengasah mata hatinya, menajamkan rasa untuk menemukan makna dalam kehidupannya. Salah satu hal yang saya pelajari dalam perjalanan saya yang relatif singkat adalah banyaknya persandingan dari hal-hal yang kita anggap sebagai sesuatu yang 'buruk' atau 'menyakitkan', dengan hal-hal yang kita anggap 'baik' atau 'menyenangkan'.
Kebanyakan orang selalu berusaha mendapatkan hal-hal yang 'baik' atau 'menyenangkan'; terkadang sampai mereka kehilangan kemampuan untuk melihat bahwa yang 'baik' atau 'menyenangkan' tadi tak ada artinya tanpa ada persandingan dengan yang dianggap 'buruk' atau 'menyakitkan'.
Sebab sesungguhnya, kita tak bisa menghayati indahnya cinta jika tak pernah mencicipi kegalauan hati yang terluka. Kita akan sulit menemukan arti bahagia jika tak pernah merasakan pedihnya bergulat dengan sedih. Kita tak akan bisa memaknai arti memiliki ketika kita tak pernah kehilangan. Apalah arti kemenangan jika kita tak pernah merasakan kekalahan? Dan bukankah hanya dalam gelap kita bisa memaknai cahaya?
Semua bersandingan, dan semua berimbang. Seperti musim yang silih berganti datang: hujan disusul kemarau, atau musim salju yang membekukan diiringi musim semi yang penuh bunga. Demikian pula kepedihan, yang sebetulnya selalu datang bersusulan dengan kebahagiaan.
Satu lagi yang saya yakini dalam perjalanan ini, bahwa hanya mereka yang pernah merasakan dalamnya kepedihan yang akan mampu memahami makna terindah dari kebahagiaan--dalam bentuk terkecil sekalipun.
...dan pada akhirnya, 'baik' -- 'buruk'; 'menyenangkan' -- 'menyakitkan', hanya soal waktu saja. Pergantian musim yang bergiliran datang saling memberi makna. Itu saja.
17 Januari 2008 ; 16.37
Thursday, January 17, 2008
Wednesday, January 9, 2008
Malam
Saya mencintai malam. Entah mengapa, kala malam saya merasa lebih kreatif--bahkan terkadang lebih produktif. Acap kali saya menemukan ide untuk menulis di malam hari. Malam memberi saya ruang untuk mengeksplorasi segenap nuansa hati... Mungkin karena malam nyaris selalu sunyi.
Dalam kesunyian malam saya selalu bisa jadi diri sendiri. Sejujur-jujurnya, sebenar-benarnya. Tak ada topeng yang menempel di wajah, tiada dusta yang perlu terucap. Juga tiada perlu merawi kata sekedar untuk memberi jawab terhadap pertanyaan-pertanyaan yang terlalu menggelisahkan [sebab, tidakkah terkadang kita mesti berterima bahwa ada banyak pertanyaan yang tak kita tahu jawabnya..?]. Malam memberi saya kesempatan untuk menggeledah pikiran saya dan mengurai benang-benang kusut persoalan yang sedang saya hadapi. Dingin tubuh malam menjadi penyejuk untuk beragam gundah yang terkadang berujung marah.
Namun ada kalanya malam terasa sangat bising. Ketika yang lalu datang mengunjungi pikiran: mengendap pelan seperti hantu-hantu telanjang kaki, merayap mendekati... Lalu sekonyong-konyong menabuh genderang memori tepat di dekat kuping. Membuat saya terbangun kaget, dan lantas mengutuki kegaduhan di hati.
Ah, malam...
Di mana sunyimu..?
8 Januari 2008 ; 02.22
Dalam kesunyian malam saya selalu bisa jadi diri sendiri. Sejujur-jujurnya, sebenar-benarnya. Tak ada topeng yang menempel di wajah, tiada dusta yang perlu terucap. Juga tiada perlu merawi kata sekedar untuk memberi jawab terhadap pertanyaan-pertanyaan yang terlalu menggelisahkan [sebab, tidakkah terkadang kita mesti berterima bahwa ada banyak pertanyaan yang tak kita tahu jawabnya..?]. Malam memberi saya kesempatan untuk menggeledah pikiran saya dan mengurai benang-benang kusut persoalan yang sedang saya hadapi. Dingin tubuh malam menjadi penyejuk untuk beragam gundah yang terkadang berujung marah.
Namun ada kalanya malam terasa sangat bising. Ketika yang lalu datang mengunjungi pikiran: mengendap pelan seperti hantu-hantu telanjang kaki, merayap mendekati... Lalu sekonyong-konyong menabuh genderang memori tepat di dekat kuping. Membuat saya terbangun kaget, dan lantas mengutuki kegaduhan di hati.
Ah, malam...
Di mana sunyimu..?
8 Januari 2008 ; 02.22
Saturday, January 5, 2008
Pilihan
Hidup adalah pilihan. Saya sangat percaya dengan kalimat itu.
Memang terkadang kita merasa bahwa kita tak punya pilihan. Ada situasi-situasi yang terasa sangat kelam, hingga membuat kita terjebak dalam kesesakan. Seakan tembok-tembok di sekeliling kita merapat dan menghimpit. Mengungkung tubuh dalam kurungan yang sempit. Namun dalam kondisi sulit, sungguhkah kita tak punya pilihan?
Sempit, sesak, ingin teriak--tapi suara tercekat. Mungkin anda pernah juga merasakannya. Dan kalau sudah begitu, sulit rasanya berpikir tentang pilihan. Tapi bukankah kita bisa memilih, dengan perspektif apa kita memandang tiap persoalan? Ketika kita terpuruk kemiskinan, tidakkah ada orang lain di sekitar kita yang lebih tak punya apa-apa. Ketika kita ditikam kepedihan, bukankah di sekitar kita ada juga orang yang disayat derita. Ketika kita tenggelam dalam kesakitan, bukankah ada orang lain yang sekarat pelan-pelan... Dan ketika prahara hidup mengobrak-abrik kenyamanan kita, tidakkah bisa kita lihat orang lain yang terhempas badai ke jurang nista.
Perspektif. Ya, terkadang mengalihkan perspektif kita dari penderitaan yang kita alami sendiri ke ruang hidup yang lebih luas bisa mengubah cara kita memandang masalah yang kita hadapi. Bagi saya, kemampuan dan kesadaran untuk memilih perspektif mana yang kita pakai dalam memandang tiap-tiap persoalan adalah kekayaan yang tak ternilai harganya. Inilah yang menjadi pilihan yang sesungguhnya: Keluasan pikiran dalam sempitnya himpitan ruang.
Saya yakin, bahkan dalam gelap yang paling hitam kita semua masih punya pilihan: Kita bisa mengutuki kekelaman... atau kita bisa menyalakan terang.
Opto, ergo sum.
Aku memilih, maka aku ada.
5 Januari 2008 ; 17.08
Memang terkadang kita merasa bahwa kita tak punya pilihan. Ada situasi-situasi yang terasa sangat kelam, hingga membuat kita terjebak dalam kesesakan. Seakan tembok-tembok di sekeliling kita merapat dan menghimpit. Mengungkung tubuh dalam kurungan yang sempit. Namun dalam kondisi sulit, sungguhkah kita tak punya pilihan?
Sempit, sesak, ingin teriak--tapi suara tercekat. Mungkin anda pernah juga merasakannya. Dan kalau sudah begitu, sulit rasanya berpikir tentang pilihan. Tapi bukankah kita bisa memilih, dengan perspektif apa kita memandang tiap persoalan? Ketika kita terpuruk kemiskinan, tidakkah ada orang lain di sekitar kita yang lebih tak punya apa-apa. Ketika kita ditikam kepedihan, bukankah di sekitar kita ada juga orang yang disayat derita. Ketika kita tenggelam dalam kesakitan, bukankah ada orang lain yang sekarat pelan-pelan... Dan ketika prahara hidup mengobrak-abrik kenyamanan kita, tidakkah bisa kita lihat orang lain yang terhempas badai ke jurang nista.
Perspektif. Ya, terkadang mengalihkan perspektif kita dari penderitaan yang kita alami sendiri ke ruang hidup yang lebih luas bisa mengubah cara kita memandang masalah yang kita hadapi. Bagi saya, kemampuan dan kesadaran untuk memilih perspektif mana yang kita pakai dalam memandang tiap-tiap persoalan adalah kekayaan yang tak ternilai harganya. Inilah yang menjadi pilihan yang sesungguhnya: Keluasan pikiran dalam sempitnya himpitan ruang.
Saya yakin, bahkan dalam gelap yang paling hitam kita semua masih punya pilihan: Kita bisa mengutuki kekelaman... atau kita bisa menyalakan terang.
Opto, ergo sum.
Aku memilih, maka aku ada.
5 Januari 2008 ; 17.08
Subscribe to:
Posts (Atom)
