Thursday, February 21, 2008

"Kiri!"

Ya, yang suka naik angkot pasti akrab betul dengan seruan di atas. Tapi saya tak hendak bicara tentang angkutan publik yang senantiasa carut marut di negara kita tercinta ini. Saya sedang ingin ngobrol tentang Kiri yang lain [ya, kita pakai saja huruf kapital di muka, biar tambah seram. Hehehe...]. Mari bicara tentang Kiri yang selalu sukses memancing kalut di sebuah negeri bernama Indonesia.

Pertama-tama, kita runut dulu sejarah istilah Kiri yang menyeramkan ini. Awalnya terminologi Kiri dan Kanan digunakan untuk menunjukkan afiliasi politik seseorang di awal era Revolusi Prancis. Asal muasalnya sederhana banget, cuma soal tempat duduk para anggota legislatif di Prancis sana pada tahun 1791. Waktu itu, raja masih jadi kepala negara [dalam konteks formal], dan pendukung kerajaan yang konservatif [kaum Feuillants -- jangan suruh saya membaca nama ini!] duduk di sebelah kanan ruang sidang legislatif; sedangkan kelompok radikal [kaum Montagnards] duduk di sebelah kiri ruangan.

Aslinya sih, pemisahan ini mencerminkan tingkat keberpihakan masing-masing kelompok pada rezim lama [baca: para aristokrat]. Maka kala itu kaum Kanan adalah kelompok pendukung para aristokrat dan keluarga kerajaan. Sedangkan kaum Kiri diartikan sebagai kelompok yang menjadi oposisi.

Itu dulu. Namun lama kelamaan, pemisahan siapa Kiri dan siapa Kanan jadi jauh lebih kompleks. Misalnya nih, waktu revolusi Bolshevik, jelas Stalin dan para pendukungnya masuk di golongan Kiri; dan memang, para pendukung komunisme jaman Stalin disebut [dan menyebut diri mereka] 'the leftists', alias kaum Kiri. Tapi, siapa yang bisa disebut kelompok Kiri di Rusia kala Stalin berkuasa? Mereka yang mendukung Stalin sejak Bolshevik-kah? Atau para reformis yang sudah mengadopsi beberapa pemikiran yang berasal dari mazhab "Kanan"?

Sudah mulai bingung? Semoga belum. Yang jelas, terminologi Kiri dan Kanan mengalami evolusi seiring perkembangan jaman. Sederhananya, terminologi Kiri biasa diasosiasikan dengan kelompok progresif [di Amerika Serikat, kelompok Kiri kerap juga diartikan sebagai kelompok 'Liberal']; sedangkan terminologi Kanan diasosiasikan dengan kaum konservatif yang setia pada paham-paham lama.

Di Indonesia, Kiri acap kali diartikan secara sempit sebagai PKI/Komunis/Sosialis -- tanpa mengenali sejarah maupun pemaknaan kata-kata tersebut secara benar. Ya, tidak heran kalau ujungnya jadi salah kaprah tiada tara. Ada baiknya kita mencoba menggali lagi, arti dari tiap-tiap kata yang berseliweran di sekeliling kita, daripada lantas mendekam dalam kebingungan abadi gara-gara indoktrinasi rezim yang gemar berdusta.

Tapi semua kembali pada pilihan masing-masing orang: Apakah hendak menggali tiap kata dan memaknainya dengan merunut sejarah kata itu? Atau masih betah terlelap dalam dusta dan pemaknaan absurd karangan para tukang bohong? Terserah, sih. Yang penting anda menentukan pilihan itu secara sadar, dan siap dengan segala konsekuensinya.




21 Februari 2008 ; 17.10

Tuesday, February 5, 2008

Sudahkan Kita Mencintai Sesama?

Alkisah di suatu malam yang senyap, Abu bin Amir pulang ke rumah yang ia tinggali sendirian. Sesampai di sana, ia tertegun, sebab dilihatnya sesuatu yang bercahaya menyala di dalam. Ia merasa takut, namun kemudian memberanikan diri memasuki rumah mungilnya itu.

Ketika ia membuka pintu, dilihatnya sosok serupa manusia. Sosok itu diliputi sinar lembut yang berpendar dalam kegelapan. Malaikat Tuhan tengah duduk di sudut ruang, nampaknya ia sedang menuliskan sesuatu.

"Wahai malaikat, sedang apakah engkau di gubukku yang kumuh ini?" tanya Abu bin Amir penuh heran.

"Aku sedang menuliskan daftar nama manusia yang mencintai Tuhan." malaikat itu berkata dengan suaranya yang jernih.

"Betapa berbahagianya mereka!" seru Abu bin Amir. "Malaikat, sudikah engkau memberitahuku, adakah namaku tercantum di dalamnya?"

"Tidak." jawab malaikat itu singkat.

Abu bin Amir menundukkan kepalanya dengan lara, namun ia tak lantas hanyut dalam kecewa. "Wahai engkau yang diliputi cahaya, maukah engkau menuliskan namaku sebagai seseorang yang mencintai sesama manusia?" pintanya dengan suara lirih, sarat dengan asa.

Malaikat itu mengangguk, sejenak kemudian sosoknya lenyap perlahan.

Keesokan malamnya, sang malaikat kembali menampakkan dirinya di rumah mungil Abu bin Amir, di tangannya ia membawa selembar daftar, "Inilah nama-nama manusia yang dicintai Tuhan," serunya.

Nama Abu bin Amir tercantum di deret pertama.



5 Februari 2008 ; 17.45


Catatan:

Dikisahkan ulang dari sebuah cerita tradisional Timur Tengah yang pernah kubaca entah kapan dan di mana; pun entah judulnya apa. Agak religius, memang, tapi aku sungguh menyukai inti ceritanya: Sebelum seseorang menyatakan dirinya mencintai Tuhan [atau apapun yang ia anggap sumber kehidupan], hendaknya ia belajar mencintai sesama manusia.

Namun aku heran, mengapa malaikat itu numpang bekerja di rumah Abu bin Amir? Tidakkah ia memiliki workstation-nya sendiri?