Aku mencintainya. Aku tahu itu, kala kulihat jingga senja, di latar cakrawala yang berpendar lembut membelai rasa. Mataku meneteskan haru cinta ketika kulihat rerumput rebah penuh rela ditengah terpaan angin yang berderu mencekam udara.
Sungguh, aku mencintainya. Walau tak pernah ia mau menatapku sekerling saja. Aku merindukannya: Menginginkan sapaannya sekedar untuk menunjukkan bahwa aku cukup pantas berada bersamanya. Ah, sungguh aku ingin ia merasakan juga hadirku seperti hatiku yang tak putus didekap kasih untuknya.
Tapi ia acap membuatku meneteskan air mata. Aku mengharap perhatiannya, mengharap sedikit saja kasih sayangnya. Dan yang kudapat hanya deraan ketidakpedulian yang menyiksa. Ya. Menyiksa. Sebab ia membiarkan orang-orang yang mengaku lebih mencintainya merampas hakku, menghantuiku dengan teror tak berkesudahan yang menghempaskanku dalam pilu.
"Mengapa..? Mengapa..?" tanyaku pedih. Tanya yang ditelan angin melarut dalam gelap tiada akhiran. Ia tak pernah menjawabnya. Tidak pula memandang mataku kala aku meratapkan duka.
Aku mencintainya. Walaupun seorang penyair jumawa sempat lantang berteriak murka tentangnya; menyeru bahwa ia memalukan. MEMALUKAN! Itu katanya. Aku tak peduli. Aku tetap mencintainya sepenuh hati.
Aku mencintainya seperti embun yang rela menguap bersama cahaya tiap kali mentari pagi datang menyapa. Aku mencintainya bersama nyanyian burung-burung gereja. Aku mencintainya seperti dedaunan yang ikhlas menyerpih menjadi humus penyubur tanah gersang. Aku mencintainya bersama pepohonan yang tetap tegak di tengah badai tanpa lindungan. Aku mencintainya seperti gemeretak kayu bakar yang rela menjadi abu demi memberi hangat. Aku mencintainya dengan tubuh yang penuh luka. Aku mencintainya bersama air mata.
Aku mencintainya.
...dan orang-orang tertawa. Aku dungu, kata mereka. "Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah peduli! Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah memberimu arti." Begitu seru mereka.
Aku tetap mencintainya.
...serangkaian pulau yang dinamai Nusantara. Sebuah bangsa yang sedang dirundung duka. Negara dan bangsa yang mengadopsi nama Indonesia. Aku mencintainya. Cinta mati. Sungguh.
12 Maret 2008 ; 18. 04
Wednesday, March 12, 2008
Monday, March 3, 2008
Setetes Harap
Ketika Hidup mengambil sesuatu darimu, berikanlah lebih banyak padanya.
Hari ini, kata-kata itu terus terngiang di telinga yang menempel di hati saya. Bukan tanpa sebab, tentunya. Ya, saya sedang merasa kehilangan; walau sesungguhnya mungkin rasa ini hanya cerminan paranoia. Namun saya juga menyadari, bahwa semua yang saya 'miliki' saat ini hanyalah pinjaman sementara: Hidup akan mengambilnya kembali suatu hari.
Masih bisakah saya memberikan lebih pada Hidup? Semoga saja. Sebab saya pernah berhadapan dengan kenyataan itu. Sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan, ketika cahaya dan keindahan terenggut nyaris tiada sisa; meninggalkan rasa pahit di lidah yang tak mau pergi untuk waktu yang lama. Dalam situasi itu saya tak tahu lagi apa yang bisa saya berikan pada hidup.. sebab saya kira saya tak lagi punya apa-apa.
Ketika itu, satu-satunya sahabat saya adalah kepahitan, terkadang dibumbui air mata. Seakan serpih-serpih hidup saya berserakan tanpa arti, dan kegelapan akan berlangsung abadi. Tapi Hidup punya cara yang aneh untuk memperlihatkan kerahimannya, suatu malam sepulang kerja saya melihat seorang gelandangan duduk di trotoar jalan. Ternyata ia tak sendiri, ada seorang anak kecil berbaring di dekatnya. Kepala si anak tergolek di pangkuan gelandangan itu; anehnya, wajah anak itu nampak gembira, tak ada kepedihan di matanya.
Lampu lalu lintas menyala merah, saya punya sedikit waktu memperhatikan dua gelandangan itu. Nampaknya si gelandangan yang lebih tua sedang bercerita pada si anak. Entah apa yang ia ceritakan, tapi saya sungguh ingin ikut mendengarkan. Sebab mereka nampak sangat larut dalam kisah itu.. dan mereka bisa tertawa. Lantas saya dibenturkan pada sebuah kesadaran, bahwa kepedihan bukanlah milik saya seorang diri, kepedihan adalah milik dunia. Dan jikapun saya merasa tak lagi punya apa-apa untuk diberikan pada Hidup, sesungguhnya saya masih punya sesuatu untuk dipersembahkan: Saya masih bisa berkisah, saya masih bisa membuat seseorang terhibur, tersenyum, tertawa. Sungguh ini sebuah benturan dahsyat bagi saya saat itu. Rasanya seperti ditabrak bis antar kota Jaya Langit jurusan Bandung-Bekasi.
Ah, ternyata hidup tak merenggut segalanya, Ia hanya menukar saja: Kesenangan sementara ditukar dengan pelajaran berharga. Selepas malam itu, sayapun belajar berkisah, belajar bercerita, belajar membuat orang tertawa. Bekal saya cuma setetes harapan, semoga saja jika saya bisa membuat seseorang tertawa, terhibur dan bahagia -- seorang saja setiap harinya -- suatu hari nanti kepedihan tak lagi jadi milik dunia; sebab semua ruang sudah padat diisi senyum dan tawa. Dan siapa tahu, sayapun boleh ikut tersenyum bersama dunia.
Harapan itu masih terpelihara. Sampai sekarang.
3 Maret 2008 ; 22.44
Hari ini, kata-kata itu terus terngiang di telinga yang menempel di hati saya. Bukan tanpa sebab, tentunya. Ya, saya sedang merasa kehilangan; walau sesungguhnya mungkin rasa ini hanya cerminan paranoia. Namun saya juga menyadari, bahwa semua yang saya 'miliki' saat ini hanyalah pinjaman sementara: Hidup akan mengambilnya kembali suatu hari.
Masih bisakah saya memberikan lebih pada Hidup? Semoga saja. Sebab saya pernah berhadapan dengan kenyataan itu. Sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan, ketika cahaya dan keindahan terenggut nyaris tiada sisa; meninggalkan rasa pahit di lidah yang tak mau pergi untuk waktu yang lama. Dalam situasi itu saya tak tahu lagi apa yang bisa saya berikan pada hidup.. sebab saya kira saya tak lagi punya apa-apa.
Ketika itu, satu-satunya sahabat saya adalah kepahitan, terkadang dibumbui air mata. Seakan serpih-serpih hidup saya berserakan tanpa arti, dan kegelapan akan berlangsung abadi. Tapi Hidup punya cara yang aneh untuk memperlihatkan kerahimannya, suatu malam sepulang kerja saya melihat seorang gelandangan duduk di trotoar jalan. Ternyata ia tak sendiri, ada seorang anak kecil berbaring di dekatnya. Kepala si anak tergolek di pangkuan gelandangan itu; anehnya, wajah anak itu nampak gembira, tak ada kepedihan di matanya.
Lampu lalu lintas menyala merah, saya punya sedikit waktu memperhatikan dua gelandangan itu. Nampaknya si gelandangan yang lebih tua sedang bercerita pada si anak. Entah apa yang ia ceritakan, tapi saya sungguh ingin ikut mendengarkan. Sebab mereka nampak sangat larut dalam kisah itu.. dan mereka bisa tertawa. Lantas saya dibenturkan pada sebuah kesadaran, bahwa kepedihan bukanlah milik saya seorang diri, kepedihan adalah milik dunia. Dan jikapun saya merasa tak lagi punya apa-apa untuk diberikan pada Hidup, sesungguhnya saya masih punya sesuatu untuk dipersembahkan: Saya masih bisa berkisah, saya masih bisa membuat seseorang terhibur, tersenyum, tertawa. Sungguh ini sebuah benturan dahsyat bagi saya saat itu. Rasanya seperti ditabrak bis antar kota Jaya Langit jurusan Bandung-Bekasi.
Ah, ternyata hidup tak merenggut segalanya, Ia hanya menukar saja: Kesenangan sementara ditukar dengan pelajaran berharga. Selepas malam itu, sayapun belajar berkisah, belajar bercerita, belajar membuat orang tertawa. Bekal saya cuma setetes harapan, semoga saja jika saya bisa membuat seseorang tertawa, terhibur dan bahagia -- seorang saja setiap harinya -- suatu hari nanti kepedihan tak lagi jadi milik dunia; sebab semua ruang sudah padat diisi senyum dan tawa. Dan siapa tahu, sayapun boleh ikut tersenyum bersama dunia.
Harapan itu masih terpelihara. Sampai sekarang.
3 Maret 2008 ; 22.44
Subscribe to:
Posts (Atom)
