Tuesday, February 3, 2009

Subaltern

Telah lama ia didera tanpa tahu untuk apa ia tersiksa. Punggung, lengan dan kakinya penuh parut serta luka — tiada habis ia disesah. Cuma seonggok tulang terbalut kulit keriput. Itu saja yang tersisa dari tubuhnya; sebab selama ini ia dipaksa menelan serpihserpih ucapan keji, itu saja santapannya. Dahaga yang ia rasakan dibasuh pahit racun diam: katakata telah dirampas dari mulutnya.

Hanya matanya yang terkadang masih memandangmu dengan tanya, seolah ia ingin berkata, “Pandanglah aku sejenak, kumohon... Sungguhkah aku layak didera?” Tapi kau tak pernah sanggup [atau tak pernah cukup peduli] memandang sepasang mata itu. Entah kenapa. Maka kau palingkan wajahmu penuh jijik tiap kali ia menatapmu.

Malam ini ia menjerit. Kau tak paham apa yang ia ratapkan. Yang kau dengar hanya raungan pilu memecah kelam. Ia seperti berkatakata, tapi engkau tak bisa menangkap maknanya. Terlalu lama ia dicekik racun diam sehingga ia tak lagi mampu berbahasa. Sesekali kau dengar isaknya di antara jeritan itu. Kau tak ingin mendengarnya berlamalama. Terlalu pilu. Lagi pula, deritanya bukan urusanmu.

”Berisik!” teriakmu lantang. Tapi ia terus menjerit dan meratap. Geram, kau datangi ia. Dan sepasang mata itu menyalakan tanya dalam pekat gulita. Masih tanya yang sama. Tanya yang membuatmu muak, tanpa kau tahu alasannya.

Ia beringsut menghampirimu. Lenganlengannya terulur seolah memohon belas kasihanmu. Kau bergegas mundur, tak sudi ia sentuh. Sebab ia kotor. Busuk. Bau. Ia terlalu menjijikkan dan engkau tak mau kulit bersihmu tercemar olehnya. Tapi ia terus beringsut menghampirimu. Perlahan. Tak hendak henti. Sampai akhirnya punggungmu menyentuh dinding dingin.

”Berisik! Berisik! Pergi!” teriakmu lagi. Sepasang mata itu terus menatapmu. Pilu seperti sembilu menusuk dalam ke jiwamu. Kau tak tahan lagi. ”Tidak”, pikirmu, ”ini semua bukan urusanku.” Tapi ia terus mendekat, mengulurkan lenganlengannya padamu. Kau tambah jijik. Kau muak. Kau marah. Lantangmu lagi, ”Apa maumu? Tak ada yang bisa kulakukan buatmu. Ini bukan urusanku!”

Ia tak menyerah.

Amarahmu memuncak. Disertai gelegar raungan murka kau dorong tubuh itu terjerembab ke lantai. Kau cengkram bahunya yang ringkih, lalu kau guncangkan tubuhnya berkalikali. Darah mengucur dari kepalanya yang terbentur pada keras lantai batu. Kau tak peduli. Kau begitu muak pada mahluk ini, walau sesungguhnya kau tak paham mengapa. Lantas kau cabik dadanya dengan kukumu. Kulitnya begitu rapuh, tak sulit kau koyak. Kau cabik tubuh kurus itu dan kau renggut jantungnya. Sejenak, di tanganmu kau rasakan detak lemah jantung mungil yang cuma segenggamanmu. Penuh paksa kau menariknya lepas dari rongga dada. Lalu kau sumpalkan jantung merah itu ke mulutnya.

Ia tak lagi bersuara.

Tinggal mata itu yang masih memandangmu seakan bertanya, ”Layakkah aku didera?” Tapi tanya itu kini tak lagi punya gema. Mata itu sekosong bolabola kaca.

Terengah, kau bangkit dan mundur tergopoh. Kau telah membunuhnya. Entah mengapa kau lakukan itu. Nafasmu memburu, matamu nyalang memandangi lantai yang merah. Darah di manamana: di lantai batu, pakaian dan tangantanganmu. Kau merasa heran, tubuh seciut itu bisa menampung darah sebanyak ini. Lantas kau duduk di sudut, sambil mengatur nafasmu. Tiada sesal. ”Salah sendiri,” pikirmu, ”begitu ribut. Dan semua itu bukan urusanku.”

Usai menenangkan diri, kau bangkit dan berjalan ke pekarangan. Di bawah cucuran air keran kau basuh tanganmu hingga bersih; bersih dari darahnya, bersih dari segala khilaf dan dosa. Seperti Pilatus.

Desir angin membisikkan nyanyian hening. Kau tegakkan tubuhmu, tengadah memandang langit. Bulan jingga tersenyum menatapmu.




3 Februari 2009 ; 06.50


author's note:
This note is just a first draft. It's probably an embryo of a story... or maybe I'm just raving mad. It is written while thinking of Gayatri Spivak "Can subaltern speak?"