<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835</atom:id><lastBuildDate>Thu, 12 Nov 2009 03:32:51 +0000</lastBuildDate><title>zeitgeist</title><description>&lt;br&gt;&lt;br&gt;katakata menyalak dalam jiwa yang menyala&lt;br&gt;sarira terbakar menjadi cahaya</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/</link><managingEditor>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-4308324591987813744</guid><pubDate>Sun, 30 Aug 2009 11:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-30T18:40:00.207+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Kisah</category><title>Gadis Kecil dan Kalung Mutiara</title><description>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;: untuk L yang sedang bersedih, semoga ikhlas dan lebih tabah, semoga yang terbaik akan segera hadir untukmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu masa yang telah lama lalu [yang mungkin esok akan kembali], seorang gadis kecil sedang sangat berbahagia. Beberapa hari lalu, ibunya memberikan sebuah kalung mutiara berkilau untuknya. Bukan mutiara asli, memang. Sekedar tiruan dari sejenis plastik saja. Tapi sungguh indah kalung itu. Si gadis kecil suka sekali mengamati kilau permukaannya yang halus, lembut memantulkan cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun berlalu. Ibu si gadis kerap memperhatikan anaknya bermain dengan kalung mutiara imitasi pemberiannya dulu. Tiap kali sang ibu memergoki si anak mengagumi kilau kalung mutiara itu, ia tersenyum penuh misteri. Dan pada suatu malam sang ibu berkata pada anaknya, “Nak, bolehkah Ibu minta kembali kalung itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil terperangah. “Mengapa, Bu?” tanyanya gundah, “Apakah aku bersalah? Tidakkah aku selalu menuruti kata Ibu? Mengapa Ibu ingin mengambil kembali kalung kesayanganku itu?” lanjutnya dengan mata berkacakaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu tak menjawab, ia hanya tersenyum, lalu mengecup dahi anak kesayangannya. Tapi malam berikutnya sang ibu kembali mengulang pinta yang sama—dan tentu saja si gadis kecil tetap mempertahankan kalung kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga hari berganti bulan dan tahun yang baru nyaris tiba mengetuk gerbang waktu, setiap malam ibu dan anak itu mengulang adegan yang nyaris serupa. Tak bosan si anak mempertahankan kalung yang ia anggap sebagai harta terbaiknya. Sampai tibalah malam tahun baru, dan sang ibu kembali bertanya, “Nak, maukah kau memberikan kalung itu kembali pada Ibu?” bisiknya sambil lembut mengelus rambut si gadis kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini si gadis kecil terdiam lama sekali sebelum menjawabnya. Sungguh ia sangat menyukai kalung mutiaranya, namun apalah arti kalung itu jika dibandingkan dengan kasih yang ia rasakan untuk ibunya? Akhirnya, teriring air mata, si gadis pun lirih berkata, “Baiklah, Bu. Ambillah kalung itu. Aku ikhlas jika itu memang kehendak Ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkembang senyum sang ibu, sungguh wajah yang bahagia. Dengan jemari bergetar si gadis kecil menyerahkan kalung kesayangannya pada ibunya. Matanya kuyup dalam nelangsa. Namun kasihnya pada sang ibu menjadi pengobat luka. Ah, lihatlah… wajah ibu begitu bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak sang ibu menimang kalung mutiara kesayangan anaknya. Lalu tanpa kata ia beranjak meninggalkan sang anak yang lantas terisak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, sang ibu kembali lagi. Di tangannya ia menggenggam kalung mutiara. Bukan cuma satu, tapi ada dua! Lalu ia berkata, “Nak, lihatlah, ini adalah kalung mutiara yang kau berikan barusan pada Ibu. Kalung mutiara imitasi yang bagus sekali. Tapi sebaik apapun, tetap bukan mutiara asli.” Ia menunjukkan kalung yang satunya lagi, “Dan ini adalah kalung mutiara yang telah lama Ibu simpankan untukmu. Lihat pendarnya. Indah, bukan? Ya, tentu lebih indah, sebab untaian ini adalah untaian mutiara yang asli. Malam ini engkau telah belajar melepaskan sesuatu yang engkau sayangi sungguh. Maka Ibu berikan kalung mutiara asli ini untukmu. Sebagai penanda bahwa engkau telah menemukan pelajaran yang sangat berharga: terkadang engkau harus melepaskan dengan ikhlas untuk mendapatkan yang terbaik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan anak gadisnya itu berpelukan. Lamaaa sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Juni 2009 ;22.55&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-4308324591987813744?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2009/08/gadis-kecil-dan-kalung-mutiara.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-8321977711810265130</guid><pubDate>Tue, 03 Feb 2009 12:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-03T19:37:48.331+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Esensi</category><title>Subaltern</title><description>Telah lama ia didera tanpa tahu untuk apa ia tersiksa. Punggung, lengan dan kakinya penuh parut serta luka — tiada habis ia disesah. Cuma seonggok tulang terbalut kulit keriput. Itu saja yang tersisa dari tubuhnya; sebab selama ini ia dipaksa menelan serpihserpih ucapan keji, itu saja santapannya. Dahaga yang ia rasakan dibasuh pahit racun diam: katakata telah dirampas dari mulutnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hanya matanya yang terkadang masih memandangmu dengan tanya, seolah ia ingin berkata, “Pandanglah aku sejenak, kumohon... Sungguhkah aku layak didera?” Tapi kau tak pernah sanggup [atau tak pernah cukup peduli] memandang sepasang mata itu. Entah kenapa. Maka kau palingkan wajahmu penuh jijik tiap kali ia menatapmu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Malam ini ia menjerit. Kau tak paham apa yang ia ratapkan. Yang kau dengar hanya raungan pilu memecah kelam. Ia seperti berkatakata, tapi engkau tak bisa menangkap maknanya. Terlalu lama ia dicekik racun diam sehingga ia tak lagi mampu berbahasa. Sesekali kau dengar isaknya di antara jeritan itu. Kau tak ingin mendengarnya berlamalama. Terlalu pilu. Lagi pula, deritanya bukan urusanmu.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Berisik!” teriakmu lantang. Tapi ia terus menjerit dan meratap. Geram, kau datangi ia. Dan sepasang mata itu menyalakan tanya dalam pekat gulita. Masih tanya yang sama. Tanya yang membuatmu muak, tanpa kau tahu alasannya.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia beringsut menghampirimu. Lenganlengannya terulur seolah memohon belas kasihanmu. Kau bergegas mundur, tak sudi ia sentuh. Sebab ia kotor. Busuk. Bau. Ia terlalu menjijikkan dan engkau tak mau kulit bersihmu tercemar olehnya. Tapi ia terus beringsut menghampirimu. Perlahan. Tak hendak henti. Sampai akhirnya punggungmu menyentuh dinding dingin. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Berisik! Berisik! Pergi!” teriakmu lagi. Sepasang mata itu terus menatapmu. Pilu seperti sembilu menusuk dalam ke jiwamu. Kau tak tahan lagi. ”Tidak”, pikirmu, ”ini semua bukan urusanku.” Tapi ia terus mendekat, mengulurkan lenganlengannya padamu. Kau tambah jijik. Kau muak. Kau marah. Lantangmu lagi, ”Apa maumu? Tak ada yang bisa kulakukan buatmu. Ini bukan urusanku!” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia tak menyerah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Amarahmu memuncak. Disertai gelegar raungan murka kau dorong tubuh itu terjerembab ke lantai. Kau cengkram bahunya yang ringkih, lalu kau guncangkan tubuhnya berkalikali. Darah mengucur dari kepalanya yang terbentur pada keras lantai batu. Kau tak peduli. Kau begitu muak pada mahluk ini, walau sesungguhnya kau tak paham mengapa. Lantas kau cabik dadanya dengan kukumu. Kulitnya begitu rapuh, tak sulit kau koyak. Kau cabik tubuh kurus itu dan kau renggut jantungnya. Sejenak, di tanganmu kau rasakan detak lemah jantung mungil yang cuma segenggamanmu. Penuh paksa kau menariknya lepas dari rongga dada. Lalu kau sumpalkan jantung merah itu ke mulutnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia tak lagi bersuara.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tinggal mata itu yang masih memandangmu seakan bertanya, ”Layakkah aku didera?” Tapi tanya itu kini tak lagi punya gema. Mata itu sekosong bolabola kaca. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terengah, kau bangkit dan mundur tergopoh. Kau telah membunuhnya. Entah mengapa kau lakukan itu. Nafasmu memburu, matamu nyalang memandangi lantai yang merah. Darah di manamana: di lantai batu, pakaian dan tangantanganmu. Kau merasa heran, tubuh seciut itu bisa menampung darah sebanyak ini. Lantas kau duduk di sudut, sambil mengatur nafasmu. Tiada sesal. ”Salah sendiri,” pikirmu, ”begitu ribut. Dan semua itu bukan urusanku.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Usai menenangkan diri, kau bangkit dan berjalan ke pekarangan. Di bawah cucuran air keran kau basuh tanganmu hingga bersih; bersih dari darahnya, bersih dari segala khilaf dan dosa. Seperti Pilatus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Desir angin membisikkan nyanyian hening. Kau tegakkan tubuhmu, tengadah memandang langit. Bulan jingga tersenyum menatapmu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3 Februari 2009 ; 06.50 &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;author's note:&lt;br /&gt;This note is just a first draft. It's probably an embryo of a story... or maybe I'm just raving mad. It is written while thinking of Gayatri Spivak "Can subaltern speak?"&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-8321977711810265130?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2009/02/subaltern.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-2725094759169057010</guid><pubDate>Sat, 08 Nov 2008 09:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-08T16:21:32.310+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Opini</category><title>...atau nasionalisme?</title><description>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“… Aku mencintainya seperti embun yang rela menguap bersama cahaya tiap kali mentari pagi datang menyapa. Aku mencintainya bersama nyanyian burung-burung gereja. Aku mencintainya seperti dedaunan yang ikhlas menyerpih menjadi humus penyubur tanah gersang. Aku mencintainya bersama pepohonan yang tetap tegak di tengah badai tanpa lindungan. Aku mencintainya seperti gemeretak kayu bakar yang rela menjadi abu demi memberi hangat. Aku mencintainya dengan tubuh yang penuh luka. Aku mencintainya bersama air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintainya…”&lt;/span&gt; **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mukadimah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda jatuh cinta… sedemikian dalam, dan tak terbalaskan? Ada kerinduan yang menggerogoti hati, yang membuat detak jantung terhentak-hentak seperti mau meledak. Ada gelombang hasrat untuk sekedar dilirik—kalau mungkin sedikit diperhatikan—sedetik saja. Ada gundah karena ‘dia’ tak juga mau hadir untuk menyapa. Ah, setiap kali saya berpikir tentang Indonesia, seperti itu kiranya yang saya rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi perempuan di sebuah negara bernama Indonesia bukanlah perkara mudah. Pola budaya yang kental dengan kuasa patriarki telak menjadi kerikil tajam yang membuat langkah tertatih nyeri. Kebijakan-kebijakan politik hadir dengan aroma testosteron yang menyengat, acap kali membuat nafas saya tersengal sesak. Dilengkapi aparat publik yang kelewat sibuk berkutat dengan agenda mereka sendiri [dan karena kebanyakan dari mereka lelaki, tak jarang kepentingan perempuan tersisih ke pinggiran jurang].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frustrasi! Ingin teriak, “Buat apa negara ini kalau kami tak punya ruang buat utuh jadi manusia..?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi entah kenapa, cinta saya pada bangsa dan negara ini tak juga lekang. Negara… Negara… Ah, apaan sih negara..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selintas Tentang Negara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan sebuah wilayah, ruang lepas: tanah, air dan udara. Sekelompok orang tinggal di sana, menghidupi diri mereka dari sumber daya yang tersedia. Menikmati kesuburan tanahnya yang memberi mereka makanan dan penghidupan. Menikmati kekayaan lautnya, dan menghirup udara bebasnya dalam hela nafas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kelompok orang ini makin lama makin banyak. Mereka harus mengelola sumber daya yang ada supaya mencukupi buat semua. Mereka juga mesti membuat aturan yang disepakati bersama, supaya tak terjadi konflik yang bisa menghancurkan pola kehidupan mereka yang mulai terasa nyaman. Dan tentu saja, mereka juga harus melindungi diri dari serangan kelompok lain yang mungkin ingin merebut sumber daya yang mereka punya. Untuk itu kelompok manusia di wilayah tadi membentuk suatu pengorganisasian masyarakat yang kita kenal sebagai negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sederhananya, negara adalah sebuah sistem pengorganisasian masyarakat yang serupa tapi tak sama dengan jenis organisasi lainnya yang dikenal umum. Serupa misalnya, karena ada struktur organisasi di sana. Dimana orang-orang yang dianggap kompeten dipilih untuk menduduki jabatan sebagai pengelola negara [: pemerintah]. Namun tentu berbeda juga dengan jenis organisasi lainnya, karena negara punya kuasa yang sangat besar atas warganya. Salah satu perbedaan terbesar antara negara dengan jenis organisasi lain adalah kekuasaan negara untuk mencabut hak hidup warganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahaman ketatanegaraan, untuk menjadi sebuah negara ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu: memiliki rakyat, memiliki wilayah, dan memiliki kedaulatan—artinya negara itu mendapatkan pengakuan dari rakyatnya dan pihak-pihak lain di luar dirinya bahwa ia memegang kekuasaan tertinggi atas warga dan wilayah tempatnya berada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan negara biasanya dimaksudkan untuk memudahkan anggotanya [: rakyat] untuk mencapai cita-cita kolektif yang dirumuskan dalam Konstitusi negara. Untuk memudahkan pencapaiannya, negara membuat aturan yang dikenal sebagai hukum. Seiring waktu, negara modern memfasilitasi rakyatnya untuk mencapai cita-cita bersama tadi dengan cara-cara yang lebih demokratis. Bentuk yang paling nyata dari pewujudan cita-cita bersama yang dirumuskan dalam konstitusi tadi adalah dengan adanya pelayanan publik; juga jaminan keamanan bagi rakyatnya. Semakin baik layanan publik yang ada di suatu negara, semakin besar rasa aman yang dihayati oleh rakyatnya, maka semakin baik pula negara itu menjalankan fungsinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika rakyat yang tinggal di suatu wilayah tertentu mempunyai identitas bersama—maksudnya ada kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya, dan/atau sejarah; maka mereka disebut sebuah bangsa. Dan jika rakyat yang tinggal di wilayah sebuah negara juga merupakan bangsa yang sama, maka negara itu disebut sebagai negara kebangsaan [: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nation-state&lt;/span&gt;].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Negara Tanda Tanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, itu tadi soal negara. Mudah-mudahan runutan singkat tadi tidak terlalu memusingkan, sebab kini kita akan mulai memasuki wilayah yang selalu berhasil membuat saya frustrasi sampai meriang tanpa ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carut marut kondisi sosial-politik-ekonomi di Indonesia sudah sedemikian kompleks dan kusut sehingga saya mesti jujur dan lapang dada mengakui bahwa saya tak sanggup merunutnya dengan baik dalam tulisan ini. Saya cuma bisa berharap, kita sudi sejenak menelaah kenyataan dengan jujur dalam hening: sudahkah negara ini berfungsi dengan optimal sebagai perangkat pencapaian cita-cita bersama kita yang terumus dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan konstitusi negara kita? Apakah pengelola negara [: pemerintah] yang kini memangku jabatan memang merupakan orang-orang pilihan yang kompeten di bidangnya? Sudahkah negara memberikan pelayanan publik yang baik buat rakyat? Sudahkah kita bisa menghela nafas lega dengan rasa aman yang diberikan oleh negara? Adakah kesetaraan dan keadilan bagi setiap warga negara, tak peduli ia kaya atau miskin, perempuan atau laki-laki, apapun suku atau etnisnya? Sudahkah semangat kesetaraan dan keadilan barusan menjadi jiwa dari kebijakan-kebijakan yang dibuat di negara ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, memang pertanyaan-pertanyaan di atas biasanya lantas sekedar menjadi retorika saja. Mungkin anda yang sudah merasa bosan dan lelah melihat kekacauan dan ketidakadilan yang membadai di sekeliling akan muak membaca pertanyaan-pertanyaan tadi. Jujur, saya juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sebel&lt;/span&gt;. Lalu kalau bosan dan lelah, apakah kita mesti tutup mata, pura-pura nggak tahu terhadap kenyataan pahit yang ada? Apakah baik kalau kita mengingkari kenyataan sekedar karena kita merasa tak punya cukup daya untuk membuat perubahan? Apakah kita mesti berhenti mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi? Dan jika memang ada di antara kita yang pernah mencoba menginisiasi perubahan—dengan berbagai cara semampu kita—hanya untuk mendapati tubuh dan jiwa kita babak belur terdera; apakah semangat berlawan lantas mesti padam? Tidak, kawan-kawan. Sebab saya yakin, kita cuma bisa membuat perubahan ketika kita sudah belajar berdamai dengan kenyataan. Sepahit apapun kenyataan itu adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akhiran Berujung Entah…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah. Bosan. Kecewa. Frustrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira seperti itulah yang saya rasakan kalau sedang tiba-tiba merenungi berbagai hal yang terjadi di negara yang saya cintai ini. Sebagai perempuan rakyat jelata yang tak punya kuasa, saya merasa demikian tidak berdaya. Merasa begitu tersisih dan tak berarti apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gilanya, seperti apapun kondisi negara bernama Indonesia ini, seperti apapun dia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyuekin&lt;/span&gt; saya dalam pengelolaan dan kebijakan-kebijakannya yang tidak berpihak pada mahluk-mahluk terpinggirkan seperti saya, tetap saja saya cinta mati padanya. Ya. Cinta mati. Sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana menurut kawan-kawan. Apakah kisah cinta tak berbalas ini sekedar kisah cinta buta yang tolol... atau nasionalisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“…dan orang-orang tertawa. Aku dungu, kata mereka. ‘Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah peduli! Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah memberimu arti.’ Begitu seru mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…serangkaian pulau yang dinamai Nusantara. Sebuah bangsa yang sedang dirundung duka. Negara dan bangsa yang mengadopsi nama Indonesia. Aku mencintainya. Cinta mati. Sungguh.”&lt;/span&gt; ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Serupa catatan pengantar diskusi untuk Madrasah Falsafah Tobucil; Rabu, 5 November 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** http://d-yanti.blogspot.com/2008/03/cinta-mati.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** ibid.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-2725094759169057010?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/11/atau-nasionalisme.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>7</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-6132174137324637366</guid><pubDate>Sat, 04 Oct 2008 09:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-04T17:35:10.947+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>amuk</category><title>shh..!</title><description>ingin kukoyak topeng tebalmu&lt;br /&gt;guyurkan hujan untuk menghapus riasan manismu&lt;br /&gt;mulut madu bersalut gulagula palsu&lt;br /&gt;membebalkan kupingkuping yang terbuai dustamu.&lt;br /&gt;tubuh rapuhmu persembunyian monster berkepala dua&lt;br /&gt;bercabang lidahnya berbisa; dahi bercula tiga&lt;br /&gt;gelap yang mengalir di nadimu menetes deras -&lt;br /&gt;jauh dari lubuk hatimu nir cahaya.&lt;br /&gt;kau pinta lidahlidah api menggila menjilatmu&lt;br /&gt;katamu, kau ingin bolabola bara menabrakmu&lt;br /&gt;supaya runtuh dunia kecil penuh basabasi merdumu;&lt;br /&gt;kuserukan 'amin!' buat harapmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biar luruh semua dustamu.&lt;br /&gt;biar nampak wajah aslimu.&lt;br /&gt;biar lepuh topeng tebalmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;shh..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 oktober 2008 ; 16.13&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-6132174137324637366?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/10/shh.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>6</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-3348426329883043032</guid><pubDate>Mon, 08 Sep 2008 09:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-08T17:24:38.793+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Refleksi</category><title>Tentang Kebahagiaan *</title><description>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Happy, but for so happy ill secured.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                                             -    Milton&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gue&lt;/span&gt; lihat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lu&lt;/span&gt; jadi pemasalah di Madrasah Falsafah Tobucil Rabu besok. Ngomongin kebahagiaan, ya? Emang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lu&lt;/span&gt; bahagia?” ujar seorang kawan di penghujung saluran telepon. Entah mengapa ia merasa terdorong untuk menyengaja bertanya setelah melihat di situs Multiply Tobucil bahwa saya bakal menghantarkan obrolan sore tentang kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbang suara kekeh saya menjawab tanya yang ia serukan. Ya, saya memang tak punya jawaban lain, selain ketawa [setengah] terpaksa yang pasti bakal diprotes Trie Utami karena nadanya tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pitch&lt;/span&gt;. Sejujurnya, mungkin saya adalah orang yang paling tidak kompeten untuk bicara tentang kebahagiaan. Terlebih jika bahagia yang dimaksud mesti memenuhi standar umum yang berlaku di masyarakat kelas menengah tempat saya menetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak percaya? Oke, saya perkenalkan diri saya pada anda. Saya seorang perempuan yang tidak menikah, berusia nyaris 35 tahun. Boro-boro menikah, status saya sebagai jomblo permanen sudah kadung kondang di kalangan para teman dan temannya teman-teman. Kondisi ini saja mestinya sudah bisa bikin depresi dan nyaris bunuh diri, mengingat saya tinggal di sebuah komunitas yang meyakini bahwa perempuan mesti selekasnya ’laku’ dinikahi sebelum usia produktifnya untuk beranak-pinak meredup digilas waktu—namun entah kenapa, sejauh ini saya masih betah hidup dan rajin ketawa-ketiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru soal status berpasangan. Pekerjaan? Hmm, saya mendapat predikat ’orang aneh’ untuk sektor ini. Soalnya saya selama ini bekerja sekedar untuk menafkahi diri sambil bersenang-senang dalam lingkup berbagai komunitas yang menarik buat saya. Segala diskusi dari politik, filsafat, sampai seni rajin saya kunjungi. Itu sih hobi, maka tak terlalu salah jika seorang kawan menjuluki saya mesin diskusi. Nah, menyadari bahwa saya butuh makan dan biaya transport buat berkeliaran dari satu ruang diskusi ke ruang diskusi lainnya, maka saya bekerja sebagai penyiar di salah satu radio swasta. Buat saya sih, ini menyenangkan. Saya tinggal mengoceh tentang berbagai hal yang memang biasanya jadi bahan obrolan sehari-hari dengan teman-teman, memutarkan lagu-lagu yang saya suka, dan dibayar untuk itu semua. Ya, penghasilannya sekedar nyaris cukup, sih. Tapi ya sudah, lah. Toh saya masih punya waktu untuk berkomunitas dan diskusi sana-sini. Jadi kalau bahagia diidentikkan dengan kelimpahan materi, kemampuan untuk membeli apapun yang diinginkan, atau liburan ke luar negeri, mestinya saya jadi manusia yang sangat sengsara. Sebab kebahagiaan dalam bentuk itu nggak bakal saya cecap dengan penghasilan saya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi? Keluarga saya sama disfungsionalnya dengan banyak keluarga lain. Hubungan afektif saya dengan teman-teman dekat mengalami naik turun serupa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;roller-coaster&lt;/span&gt; di anjungan Halilintar - Dufan. Kondisi mood saya sehari-hari mirip dengan grafik Nikkei di bursa saham. Relasi asmaratif saya babak belur tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kan! Percayalah, jika merunut semua alasan tadi, saya sungguh tidak kompeten bicara tentang kebahagiaan. Sebab, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mestinya&lt;/span&gt; saya tidak berbahagia. Dan memang sampai hari ini, saya belum pernah mendeklarasikan diri sebagai orang yang berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas obrolan singkat dengan teman lewat telepon yang saya singgung di awal tadi, saya mulai merenungkan kebahagiaan. Saya tergerak untuk mengintip beberapa pendapat orang pintar yang tidak berprofesi sebagai dukun untuk mencari tahu makna bahagia di benak mereka. Lantas saya bersinggungan dengan pendapat John Stuart Mill yang merangkum makna bahagia dalam wadah moral. Kira-kira dia bilang kalau kita melakukan kebaikan, maka tindakan itu bakal membawa kita pada kebahagiaan. Ia juga menyamakan kebahagiaan dengan ’kesenangan dan tiadanya kepedihan’ [&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pleasure and the absence of pain&lt;/span&gt;]. Namun ia juga mengakui bahwa elemen ’kesenangan’ atau pleasure tidak hanya mesti hadir dalam kuantitas yang cukup, tapi juga harus memiliki kualitas yang baik. Ia mengelompokkan ’kesenangan’ dalam himpunan ’kesenangan rendah’ [berkait dengan hal-hal badaniah] dan ’kesenangan tinggi’ [kepuasan intelektual, rasa, imajinasi, dan kepuasan moral]**.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kata Mill. Dia memang cerdas sih, tapi saya nggak sepakat sepenuhnya sama pendapat dia. Soalnya, buat saya pendapatnya itu rada kontradiktif. Semacam hibrid antara kesenangan [&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pleasure&lt;/span&gt;] yang sifatnya cenderung hedonistik bersandingan kontras dengan moral yang [kalau merunut tatanan di masa kehidupan Mill] sekaku ranting dan sekeras batu: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lempeng&lt;/span&gt;, non-fleksibel, nggak ada lucu-lucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas ngomelin tulisan Mill, saya lalu mencoba mengintip makna bahagia menurut J. Krishnamurti. Dia bilang, kebahagiaan itu sekedar merupakan efek samping &lt;span style="font-style: italic;"&gt;doang&lt;/span&gt;; jadi kebahagiaan sebetulnya nggak terlalu penting. Kebahagiaan—atau tepatnya hal yang biasa dianggap kebahagiaan oleh kebanyakan orang—cuma sensasi sejenak yang niscaya bakal lenyap. Buat Krishnamurti, ada muatan esensial dalam kebahagiaan yang sejati. Maka kebahagiaan bukanlah tujuan akhir, sebab ketika ia menjadi tujuan akhir ia kehilangan makna sejatinya. Susahnya, manusia sering salah menyamakan kebahagiaan dengan sensasi yang membuat kita seakan-akan bahagia ***. Misalnya, seorang pemain sepakbola yang berhasil menembus gawang lawan dan mencetak gol akan merasakan sensasi yang melambungkan rasa, serupa dengan bahagia. Demikian juga dengan pegawai yang berhasil mendapatkan sebuah proyek karena presentasinya yang gemilang, atau seseorang yang tengah jatuh cinta dan berhasil ’jadian’. Sensasi. Semua cuma sensasi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tak bisa menemukan kebahagiaan dengan cara ini, menurut Krishnamurti. Bahagia sejati bukan sesuatu yang bisa dicari, dikejar, lalu ditangkap. Sebab kita bukan cicak dan bahagia bukanlah nyamuk. Kalaupun kita berusaha mendapatkan kebahagiaan dengan cara ini, yang kita dapat cuma letupan-letupan kecil sensasi serupa bahagia. Yang mencengangkan saya, Krishnamurti sedemikian keukeuh mengatakan bahagia itu nggak bisa dicari; dan kalaupun kita ngotot nyari, nggak mungkin ketemu; sampai-sampai pernyataan itu dia ulang beberapa kali dalam bukunya. Nah, lho! Mampus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dah gue&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya panik. Sungguh. Tak bisa saya bayangkan hidup ini bakal berakhir tanpa bisa menemukan kebahagiaan. Sialan Krishnamurti! Saya menyesal baca bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak pemikiran orang-orang pintar tadi ternyata hanya membawa saya pada dingin gelap kabut kebingungan. Saya merasa sulit menerima kebahagiaan disejajarkan dengan kesenangan belaka, apalagi dikaitkan dengan moral. Ntar dulu! Moral yang kayak gimana maksudnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dul?&lt;/span&gt; Moral &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mainstream&lt;/span&gt; yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;male-stream&lt;/span&gt;? Huh! Enak aja. Urusan permoralan ini saja bisa jadi bahan diskusi tersendiri. Tapi saya juga nggak terima Krishnamurti bilang bahagia nggak mungkin ditemukan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kampret&lt;/span&gt;! Terus ngapain gue hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selama berjam-jam saya manyun... Hingga saya merasa semakin tidak bahagia dengan mulut saya yang kian maju menyusul ukuran hidung saya yang tak seberapa signifikan. Cermin memantulkan imaji wajah kusut yang tidak karuan. Sebuah pemandangan blo’on yang membuat saya terbahak sendirian. Bukan tawa sumbang kali ini; tulus dan sepenuh hati saya menertawakan wajah, juga ekspresi kebingungan sejati yang terpancar di raut di yang terpantul di cermin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya bahagia? Ah, saya tak berhasil menemukan jawabnya. Mungkin saya mencari referensi yang salah. Mungkin saya tersesat pikir dalam mencari maknanya. Atau mungkin... Hey! Mungkin saya mengajukan pertanyaan yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas saya memberanikan diri mengajukan pertanyaan dari perspektif yang berbeda. Apakah saya tidak bahagia? Nggak tuh. Saya tidak tak-berbahagia. Saya akui, saya memang jarang mengalami letupan sensasi euphoria yang biasanya diterjemahkan orang sebagai kebahagiaan. Tapi saya tak merasa keberatan dengan kondisi itu. Untuk beberapa orang sebagian pandangan saya berkait dengan moral ataupun tatanan nilai dianggap tak biasa. Namun saya telah lama berdamai dengan kenyataan itu, berdamai dengan perbedaan-perbedaan tersebut. Hidup tak selamanya ramah pada saya, namun sejauh ini saya selalu berhasil menemukan makna [sebagian orang menyebutnya hikmah] dari berbagai pengalaman yang pernah saya lalui—pengalaman menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Ada kalanya saya bersentuhan dengan sedih, getir, atau perih. Tapi semua orang memang selalu mendapatkan porsi tersendiri dari semua rasa itu, kan? Emang ada orang yang seumur hidup nggak pernah sedih? Kalau ada yang ngaku-ngaku, saya yakin dia nipu. Lagian, bahkan ketika tersungkur dalam kesedihan yang terkelam sekalipun, saya selalu punya keyakinan bahwa semua itu sementara. Hari ini sedih, kali aja besok semuanya membaik. Sebab, bukankah tiada hal yang abadi di dunia ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil merenung, saya iseng membuka-buka buku catatan, hendak mencari inspirasi untuk menuliskan racau yang tengah anda baca ini. Dan saya menemukan sebuah kutipan dari Albert Camus [sayang saya lupa mengutipnya dari buku yang mana]: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“In the midst of winter I finally learned that there was in me an invincible summer.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, jika kebahagiaan sejati dianalogikan sebagai musim panas yang disebut Camus tadi, maka kebahagiaan memang nggak usah dicari. Sebab ia ada. Selalu ada. Nggak bakal ketemu, kalau dicari diluar diri. Kebahagiaan sejati bermukim jauh di kedalaman hati, menanti kita untuk mengalirkannya dalam tiap sel tubuh, dan merembes di tiap rongga pori. Bahagia sejati nggak perlu diwartakan dalam deklarasi. Tanpa suara dan kata, ia memancar dan menginfeksi. Bahagia tak butuh letupan sensasi. Dengan tenang dan sabar ia menunggu kita untuk membiarkannya mendekap tubuh seperti selimut hangat yang melindungi dari dingin nan sunyi. Kebahagiaan bukan benda; ia tak bisa dimiliki, direbut, atau didominasi. Kebahagiaan bahkan tak butuh alasan untuk mewujud; kitalah yang mesti memelihara kesadaran bahwa ia tak pernah absen ataupun meredup. Kebahagiaan adalah sebuah perjalanan sukacita untuk &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;menjadi&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berbahagialah! Sekian dan terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 September 2008 ; 01.24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*     semacam catatan pengantar obrolan Rabu Sore di Madrasah Falsafah Tobucil Bandung, 3 September 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**  John Stuart Mill, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Utilitarianism&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;*** J. Krishnamurti, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reflections on the Self&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-3348426329883043032?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/09/tentang-kebahagiaan.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-5358884172839488294</guid><pubDate>Wed, 04 Jun 2008 13:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-04T20:29:12.573+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Refleksi</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Esensi</category><title>Milik</title><description>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Seorang perempuan murka, sebab kekasihnya tiba-tiba mengaku mencintai perempuan lain. Padahal mereka hendak menikah, dan janji-janji telah terucap. “Kita saling memiliki!” jeritnya mengoyak malam. Hening menjawabnya di tengah kelam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Seorang lelaki meringkuk di sudut ruang, siang tadi ia baru diberi tahu, kontrak kerjanya tak akan diperpanjang. Ia tak tahu, bagaimana ia bisa mengabarkan musibah ini pada istrinya di rumah. Tiga anak mereka, semua mesti sekolah. Apa yang bisa ia lakukan? Kini ia bahkan tak sanggup melangkah pulang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Seorang anak tersedu di pinggir selokan. Buku baru pemberian ibunya jatuh dan hanyut di tengah deras sisa air hujan. &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Sesiang tadi ia membacakan cerita dalam buku itu pada teman-temannya. Mereka asyik tenggelam dalam kisah petualangan seru yang membawa mereka menjelajah ruang fantasi tak berbatas. Kini buku itu hanyut sudah. Tak ada lagi bacaan seru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kehilangan adalah rasa yang selalu menyisakan getir tiap kali ia datang menyapa. Adakah diantara kita yang tak pernah merasakannya? Tidak. Tiada seorangpun terluput dari sentuhannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Mana yang lebih berat: kehilangan kekasih, pekerjaan, atau buku? Semua tergantung dari perspektif yang kita punya. Namun saya yakin, tiga individu yang saya sebut di atas merasakan kepedihan yang serupa. Dari titik di mana mereka berpijak, kehilangan yang mereka alami tentu terasa berat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt; kalanya seseorang merasa kehilangan segalanya. Sebab terkadang ‘kehilangan’ menyapa kita dalam bentuk jamak; menghantam bertubi tanpa ampun. Memporakporandakan dunia kecil kita; meruntuhkan langit, melontarkan kita ke ruang hampa tanpa pijakan tanpa naungan. Lantas kita tergoda untuk mengutuki hidup yang [seperti] tak punya rasa kasihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ah, sungguhkah hidup sedemikian kejam? Mari kita telaah, apa sesungguhnya yang hilang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Apakah kita memiliki orang yang kita sebut ‘kekasih’? Tidak. Ia manusia merdeka. Tak ada seorang pun yang bisa memiliki orang lainnya, sebab era perbudakan sudah lagi lewat ditelan arus zaman. Semua orang yang kita cintai bisa saja ‘lenyap’ dari hidup kita; entah karena ia memilih untuk menjalani hidup bersama orang lain, atau karena suatu alasan mesti memutuskan untuk berpisah, atau bahkan karena kematian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Namun jika kita mencintai orang itu dengan tulus, apakah cinta itu hilang? Tidak, tak akan pernah. Kecuali jika kita memilih untuk mengabaikan cinta yang tulus tersebut dan membiarkannya hilang. Cinta yang tulus tak akan pernah bisa diambil orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Apakah kita memiliki pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari? Tidak. Pekerjaan itu dipinjamkan oleh orang yang mempekerjakan kita... Hanya dipinjamkan. Dan bahkan itu pun bukan miliknya. Pekerjaan hanyalah sekedar nafkah penyambung hidup. Ia bisa hilang kapanpun, dengan beragam sebab yang acap kali datang di luar dugaan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ketika kita kehilangan pekerjaan, apakah lantas kita kehilangan kemampuan mencari nafkah, kehilangan daya juang untuk menghidupi diri dan menghidupi orang-orang yang kita kasihi? Tentu tidak. Kemampuan mencari nafkah, daya juang untuk menghidupi orang-orang tersayang tak bisa hilang dari kita, kecuali jika kita membiarkan diri tenggelam dalam keputusasaan. Tak ada yang bisa mengambilnya, hanya kita yang bisa menghilangkannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Apa yang penting dari sebuah buku? Substansinya. Secara fisik, sebuah buku hanyalah setumpuk kertas bertulisan yang terjilid dalam sebuah kesatuan. Itu saja, tak lebih. Yang membuatnya penting adalah isinya, kisah yang tertulis di dalamnya, buah pikiran penulis yang tersampaikan pada kita. Ketika kita berhasil menyerap substansi sebuah buku, maka ia telah menyelesaikan tugasnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Siapa yang bisa mengambil buah pikir yang pernah kita serap? Tak seorangpun. Hanya jika kita tidak memelihara ingatan dan pikiran, maka substansi tersebut akan menguap tanpa sisa. Tak ada orang lain yang bisa mengambilnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lalu apa yang hilang?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Hal-hal terpenting dalam hidup adalah segala yang tak bisa dirampas oleh orang lain. Cinta kasih yang tulus, daya hidup untuk terus berjuang, pikiran yang selalu kita asah… Tak ada yang bisa mengambil semua itu dari kita. Dan ketika seseorang berkenalan dengan kesadaran ini, maka ia menjadi orang yang sangat kaya: ia telah menjadi manusia merdeka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ultimus, 8 Mei 2008 ; 20.21 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-5358884172839488294?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/06/milik.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-1186553338913653141</guid><pubDate>Thu, 10 Apr 2008 14:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-20T18:56:09.160+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Opini</category><title>Buruk Rupa, Cermin Dibelah</title><description>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Ada yang tau mafia peradilan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tangan kanan hukum di kiri pidana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dikasih uang habis perkara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apa bener ada mafia pemilu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Entah gaptek apa manipulasi data&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ujungnya beli suara rakyat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mau tau gak mafia di senayan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kerjanya tukang buat peraturan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bikin UUD ujung-ujungnya duit."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gossip Jalanan&lt;/span&gt;, Slank]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah potongan lagu Slank yang sempat bikin panas kuping para anggota dewan yang terhormat. Sedemikian panas hingga sempat ada kabar bahwa kelompok musik dari Gang Potlot itu bakal digugat Badan Kehormatan (BK) DPR. Kenapa baru panas sekarang, padahal lagu tersebut sudah ada sejak tahun 2004? Entahlah, mungkin para anggota dewan kurang tekun menyimak suara-suara di sekeliling mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gossip Jalanan&lt;/span&gt; tersebut belakangan dirilis ulang oleh Slank atas persetujuan KPK dalam usaha kampanye anti korupsi. Bahkan pada hari Senin tanggal 24 Maret lalu, Slank sempat juga menggelar pentas di gedung KPK, membawakan lagu-lagu mereka yang bernada sarkartis menyoroti maraknya korupsi di Indonesia. Tak hanya itu, Slank kini sedang menggarap CD kompilasi lagu-lagu mereka yang bertema sosial dengan judul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Anti Korupsi "Not for Self"'&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ancaman gugatan DPR terhadap Slank  gugur hancur ketika sebuah peristiwa [yang tak terlalu] mengejutkan terjadi. Rabu tanggal 9 April 2008, Al Amin Nasution, anggota fraksi PPP DPR, ditangkap sekitar pukul 02:00 WIB di hotel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Ritz Carlton&lt;/span&gt;, Jakarta Selatan. Amin diduga terkait rencana pengalihan kawasan hutan lindung menjadi hutan industri di provinsi Riau. Tuduhan suap senilai 1,8 miliar rupiah membayangi langkah sang anggota dewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kebetulankah? Saya tak tahu. Tapi untuk saya pribadi, ini sebuah kisah yang lucu. Pengantar saya berharap, semoga jadi pengingat untuk mereka yang tengah punya kuasa, supaya jangan asal ancam, asal gugat, asal gebuk; sebelum diri berkaca dan menelaah jiwa. Sebagai penonton, saya sudah lagi puas terbahak: menyimak sebuah komedi satir persembahan semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 April 2008 ; 21.40&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-1186553338913653141?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/04/ada-yang-tau-mafia-peradilan-tangan.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-3468634060864375130</guid><pubDate>Mon, 07 Apr 2008 14:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-09T21:32:09.637+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>amuk</category><title>Tim Sukses</title><description>Saya sedang muak. Sungguh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya sederhana saja, PILKADA[L] akan segera dilangsungkan, dan saya muak dihujani materi kampanye para kandidat yang nggak bermutu. Ada yang mengaku sudah  dinanti rakyat priangan dengan pola kampanye &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kang …&lt;/span&gt;[nama kandidat]&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;nama&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, tos ditungguan ku rakyat Jabaaar..!” &lt;/span&gt;(Kang ... [nama kandidat], sudah ditunggu oleh rakyat Jabar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huh! Sontak hati tegas menukas, “Siapa yang nunggu, dul? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gua&lt;/span&gt; nggak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang [konon] diharapkan mengembalikan keadaan seperti ketika kita mesti memilih presiden yang sama selama 32 tahun. Apa nggak salah, tuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas ada kandidat yang [mencoba] menampilkan ke-"keren"-an masa lalu ketika masih jadi idola remaja tahun ‘80-an. Ada pula yang sekedar berbangga akan kumis mereka. Halah..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya menyalahkan kandidat-kandidat itu untuk bentuk kampanye mereka yang tidak cerdas? Tidak sepenuhnya. Mereka hanya ingin menang, itu saya maklumi. Dan mereka akan melakukan cara apapun untuk mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sungguh, saya ingin tahu siapa yang menjadi otak di balik kampanye mereka. Tim sukses. Demikian biasanya mahluk-mahluk itu disebut. Ingin saya guncang kepala mereka, sekedar untuk mengetahui apakah kepala-kepala tersebut bakal berkelontangan sebab sel-sel kelabu mahapenting yang berada di dalamnya sudah lagi keras mengerikil; &lt;/nama&gt;jadi bebatu mungil dalam tengkorak mereka yang juga kecil. Menyebabkan mereka sulit berpikir, &lt;nama&gt;hingga sanggup mereka mencipta bentuk kampanye yang selama ini terpaksa saya konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkin saya perlu berterimakasih pada mereka, sebab bagaimanapun mereka telah sukses membuat saya yakin dan akhirnya menetapkan keputusan penting. Mereka telah membuat saya melihat dan mendengar lagi, dengan penuh yakin tanpa titik-titik ragu yang mengaburkan pandang dan pikir. Sebuah keyakinan utuh yang pernah hilang, kini telah kembali pulang. Maka saya teguh membulatkan putusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah memilih.. untuk &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tidak&lt;/span&gt; memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, tim sukses. Kalian memang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 April 2008 ; 21.16&lt;/nama&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-3468634060864375130?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/04/tim-sukses.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-6731538687465926057</guid><pubDate>Wed, 12 Mar 2008 11:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-13T14:29:17.505+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Esensi</category><title>Cinta Mati</title><description>Aku mencintainya. Aku tahu itu, kala kulihat jingga senja, di latar cakrawala yang berpendar lembut membelai rasa. Mataku meneteskan haru cinta ketika kulihat rerumput rebah penuh rela ditengah terpaan angin yang berderu mencekam udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, aku mencintainya. Walau tak pernah ia mau menatapku sekerling saja. Aku merindukannya: Menginginkan sapaannya sekedar untuk menunjukkan bahwa aku cukup pantas berada bersamanya. Ah, sungguh aku ingin ia merasakan juga hadirku seperti hatiku yang tak putus didekap kasih untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia acap membuatku meneteskan air mata. Aku mengharap perhatiannya, mengharap sedikit saja kasih sayangnya. Dan yang kudapat hanya deraan ketidakpedulian yang menyiksa. Ya. Menyiksa. Sebab ia membiarkan orang-orang yang mengaku lebih mencintainya merampas hakku, menghantuiku dengan teror tak berkesudahan yang menghempaskanku dalam pilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa..? Mengapa..?" tanyaku pedih. Tanya yang ditelan angin melarut dalam gelap tiada akhiran. Ia tak pernah menjawabnya. Tidak pula memandang mataku kala aku meratapkan duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintainya. Walaupun seorang penyair jumawa sempat lantang berteriak murka tentangnya; menyeru bahwa ia memalukan. MEMALUKAN! Itu katanya. Aku tak peduli. Aku tetap mencintainya sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintainya seperti embun yang rela menguap bersama cahaya tiap kali mentari pagi datang menyapa. Aku mencintainya bersama nyanyian burung-burung gereja. Aku mencintainya seperti dedaunan yang ikhlas menyerpih menjadi humus penyubur tanah gersang. Aku mencintainya bersama pepohonan yang tetap tegak di tengah badai tanpa lindungan. Aku mencintainya seperti gemeretak kayu bakar yang rela menjadi abu demi memberi hangat. Aku mencintainya dengan tubuh yang penuh luka. Aku mencintainya bersama air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...dan orang-orang tertawa. Aku dungu, kata mereka. "Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah peduli! Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah memberimu arti." Begitu seru mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...serangkaian pulau yang dinamai Nusantara. Sebuah bangsa yang sedang dirundung duka. Negara dan bangsa yang mengadopsi nama Indonesia. Aku mencintainya. Cinta mati. Sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Maret 2008 ; 18. 04&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-6731538687465926057?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/03/cinta-mati.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>9</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-7459768237084370747</guid><pubDate>Mon, 03 Mar 2008 15:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-08T17:33:08.325+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Refleksi</category><title>Setetes Harap</title><description>Ketika Hidup mengambil sesuatu darimu, berikanlah lebih banyak padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, kata-kata itu terus terngiang di telinga yang menempel di hati saya. Bukan tanpa sebab, tentunya. Ya, saya sedang merasa kehilangan; walau sesungguhnya mungkin rasa ini hanya cerminan paranoia. Namun saya juga menyadari, bahwa semua yang saya 'miliki' saat ini hanyalah pinjaman sementara: Hidup akan mengambilnya kembali suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bisakah saya memberikan lebih pada Hidup? Semoga saja. Sebab saya pernah berhadapan dengan kenyataan itu. Sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan, ketika cahaya dan keindahan terenggut nyaris tiada sisa; meninggalkan rasa pahit di lidah yang tak mau pergi untuk waktu yang lama. Dalam situasi itu saya tak tahu lagi apa yang bisa saya berikan pada hidup.. sebab saya kira saya tak lagi punya apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, satu-satunya sahabat saya adalah kepahitan, terkadang dibumbui air mata. Seakan serpih-serpih hidup saya berserakan tanpa arti, dan kegelapan akan berlangsung abadi. Tapi Hidup punya cara yang aneh untuk memperlihatkan kerahimannya, suatu malam sepulang kerja saya melihat seorang gelandangan duduk di trotoar jalan. Ternyata ia tak sendiri, ada seorang anak kecil berbaring di dekatnya. Kepala si anak tergolek di pangkuan gelandangan itu; anehnya, wajah anak itu nampak gembira, tak ada kepedihan di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu lalu lintas menyala merah, saya punya sedikit waktu memperhatikan dua gelandangan itu. Nampaknya si gelandangan yang lebih tua sedang bercerita pada si anak. Entah apa yang ia ceritakan, tapi saya sungguh ingin ikut mendengarkan. Sebab mereka nampak sangat larut dalam kisah itu.. dan mereka bisa tertawa. Lantas saya dibenturkan pada sebuah kesadaran, bahwa kepedihan bukanlah milik saya seorang diri, kepedihan adalah milik dunia. Dan jikapun saya merasa tak lagi punya apa-apa untuk diberikan pada Hidup, sesungguhnya saya masih punya sesuatu untuk dipersembahkan: Saya masih bisa berkisah, saya masih bisa membuat seseorang terhibur, tersenyum, tertawa. Sungguh ini sebuah benturan dahsyat bagi saya saat itu. Rasanya seperti ditabrak bis antar kota Jaya Langit jurusan Bandung-Bekasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ternyata hidup tak merenggut segalanya, Ia hanya menukar saja: Kesenangan sementara ditukar dengan pelajaran berharga. Selepas malam itu, sayapun belajar berkisah, belajar bercerita, belajar membuat orang tertawa. Bekal saya cuma setetes harapan, semoga saja jika saya bisa membuat seseorang tertawa, terhibur dan bahagia -- seorang saja setiap harinya -- suatu hari nanti kepedihan tak lagi jadi milik dunia; sebab semua ruang sudah padat diisi senyum dan tawa. Dan siapa tahu, sayapun boleh ikut tersenyum bersama dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan itu masih terpelihara. Sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Maret 2008 ; 22.44&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-7459768237084370747?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/03/setetes-harap.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-8762281204349522605</guid><pubDate>Thu, 21 Feb 2008 10:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-08T18:19:26.230+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Esensi</category><title>"Kiri!"</title><description>Ya, yang suka naik angkot pasti akrab betul dengan seruan di atas. Tapi saya tak hendak bicara tentang angkutan publik yang senantiasa carut marut di negara kita tercinta ini. Saya sedang ingin ngobrol tentang Kiri yang lain [ya, kita pakai saja huruf kapital di muka, biar tambah seram. Hehehe...]. Mari bicara tentang Kiri yang selalu sukses memancing kalut di sebuah negeri bernama Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, kita runut dulu sejarah istilah Kiri yang menyeramkan ini. Awalnya terminologi Kiri dan Kanan digunakan untuk menunjukkan afiliasi politik seseorang di awal era Revolusi Prancis. Asal muasalnya sederhana banget, cuma soal tempat duduk para anggota legislatif di Prancis sana pada tahun 1791. Waktu itu, raja masih jadi kepala negara [dalam konteks formal], dan pendukung kerajaan yang konservatif [kaum Feuillants -- jangan suruh saya membaca nama ini!] duduk di sebelah kanan ruang sidang legislatif; sedangkan kelompok radikal [kaum Montagnards] duduk di sebelah kiri ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aslinya sih, pemisahan ini mencerminkan tingkat keberpihakan masing-masing kelompok pada rezim lama [baca: para aristokrat]. Maka kala itu kaum Kanan adalah kelompok pendukung para aristokrat dan keluarga kerajaan. Sedangkan kaum Kiri diartikan sebagai kelompok yang menjadi oposisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dulu. Namun lama kelamaan, pemisahan siapa Kiri dan siapa Kanan jadi jauh lebih kompleks. Misalnya nih, waktu revolusi Bolshevik, jelas Stalin dan para pendukungnya masuk di golongan Kiri; dan memang, para pendukung komunisme jaman Stalin disebut [dan menyebut diri mereka] 'the leftists', alias kaum Kiri. Tapi, siapa yang bisa disebut kelompok Kiri di Rusia kala Stalin berkuasa? Mereka yang mendukung Stalin sejak Bolshevik-kah? Atau para reformis yang sudah mengadopsi beberapa pemikiran yang berasal dari mazhab "Kanan"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah mulai bingung? Semoga belum. Yang jelas, terminologi Kiri dan Kanan mengalami evolusi seiring perkembangan jaman. Sederhananya, terminologi Kiri biasa diasosiasikan dengan kelompok progresif [di Amerika Serikat, kelompok Kiri kerap juga diartikan sebagai kelompok 'Liberal']; sedangkan terminologi Kanan diasosiasikan dengan kaum konservatif yang setia pada paham-paham lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, Kiri acap kali diartikan secara sempit sebagai PKI/Komunis/Sosialis -- tanpa mengenali sejarah maupun pemaknaan kata-kata tersebut secara benar. Ya, tidak heran kalau ujungnya jadi salah kaprah tiada tara. Ada baiknya kita mencoba menggali lagi, arti dari tiap-tiap kata yang berseliweran di sekeliling kita, daripada lantas mendekam dalam kebingungan abadi gara-gara indoktrinasi rezim yang gemar berdusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semua kembali pada pilihan masing-masing orang: Apakah hendak menggali tiap kata dan memaknainya dengan merunut sejarah kata itu? Atau masih betah terlelap dalam dusta dan pemaknaan absurd karangan para tukang bohong? Terserah, sih. Yang penting anda menentukan pilihan itu secara sadar, dan siap dengan segala konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 Februari 2008 ; 17.10&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-8762281204349522605?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/02/kiri.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-4911321829698432284</guid><pubDate>Tue, 05 Feb 2008 10:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-08T17:31:26.574+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Refleksi</category><title>Sudahkan Kita Mencintai Sesama?</title><description>Alkisah di suatu malam yang senyap, Abu bin Amir pulang ke rumah yang ia tinggali sendirian. Sesampai di sana, ia tertegun, sebab dilihatnya sesuatu yang bercahaya menyala di dalam. Ia merasa takut, namun kemudian memberanikan diri memasuki rumah mungilnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia membuka pintu, dilihatnya sosok serupa manusia. Sosok itu diliputi sinar lembut yang berpendar dalam kegelapan. Malaikat Tuhan tengah duduk di sudut ruang, nampaknya ia sedang menuliskan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai malaikat, sedang apakah engkau di gubukku yang kumuh ini?" tanya Abu bin Amir penuh heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sedang menuliskan daftar nama manusia yang mencintai Tuhan." malaikat itu berkata dengan suaranya yang jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betapa berbahagianya mereka!" seru Abu bin Amir. "Malaikat, sudikah engkau memberitahuku, adakah namaku tercantum di dalamnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak." jawab malaikat itu singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu bin Amir menundukkan kepalanya dengan lara, namun ia tak lantas hanyut dalam kecewa. "Wahai engkau yang diliputi cahaya, maukah engkau menuliskan namaku sebagai seseorang yang mencintai sesama manusia?" pintanya dengan suara lirih, sarat dengan asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat itu mengangguk, sejenak kemudian sosoknya lenyap perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan malamnya, sang malaikat kembali menampakkan dirinya di rumah mungil Abu bin Amir, di tangannya ia membawa selembar daftar, "Inilah nama-nama manusia yang dicintai Tuhan," serunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Abu bin Amir tercantum di deret pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Februari 2008 ; 17.45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan ulang dari sebuah cerita tradisional Timur Tengah yang pernah kubaca entah kapan dan di mana; pun entah judulnya apa. Agak religius, memang, tapi aku sungguh menyukai inti ceritanya: Sebelum seseorang menyatakan dirinya mencintai Tuhan [atau apapun yang ia anggap sumber kehidupan], hendaknya ia belajar mencintai sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun aku heran, mengapa malaikat itu numpang bekerja di rumah Abu bin Amir? Tidakkah ia memiliki workstation-nya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-4911321829698432284?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/02/sudahkan-kita-mencintai-sesama.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-8344171709282101916</guid><pubDate>Thu, 17 Jan 2008 10:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-08T17:30:02.663+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Refleksi</category><title>Makna</title><description>Dalam perjalanan hidup kita berpapasan dengan banyak peristiwa. Ada yang membawa tawa, ada juga yang datang bersama air mata. Untaian bahagia dan derita, serupa dengan nyanyian-nyanyian yang tersusun dalam sebuah medley: kadang dengan perpindahan nada yang rapi dan mengalun halus, kadang menghentak mengejutkan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah makna di balik tiap peristiwa? Saya yakin selalu ada. Dan saya cukup percaya bahwa perjalanan hidup adalah sebuah maraton panjang pencarian makna; sebab tak semua yang termaktub di jalan hidup bisa terbaca oleh mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa lapang hati seseorang ketika ia dapat mengasah mata hatinya, menajamkan rasa untuk menemukan makna dalam kehidupannya. Salah satu hal yang saya pelajari dalam perjalanan saya yang relatif singkat adalah banyaknya persandingan dari hal-hal yang kita anggap sebagai sesuatu yang 'buruk' atau 'menyakitkan', dengan hal-hal yang kita anggap 'baik' atau 'menyenangkan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang selalu berusaha mendapatkan hal-hal yang 'baik' atau 'menyenangkan'; terkadang sampai mereka kehilangan kemampuan untuk melihat bahwa yang 'baik' atau 'menyenangkan' tadi tak ada artinya tanpa ada persandingan dengan yang dianggap 'buruk' atau 'menyakitkan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab sesungguhnya, kita tak bisa menghayati indahnya cinta jika tak pernah mencicipi kegalauan hati yang terluka. Kita akan sulit menemukan arti bahagia jika tak pernah merasakan pedihnya bergulat dengan sedih. Kita tak akan bisa memaknai arti memiliki ketika kita tak pernah kehilangan. Apalah arti kemenangan jika kita tak pernah merasakan kekalahan? Dan bukankah hanya dalam gelap kita bisa memaknai cahaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bersandingan, dan semua berimbang. Seperti musim yang silih berganti datang: hujan disusul kemarau, atau musim salju yang membekukan diiringi musim semi yang penuh bunga. Demikian pula kepedihan, yang sebetulnya selalu datang bersusulan dengan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang saya yakini dalam perjalanan ini, bahwa hanya mereka yang pernah merasakan dalamnya kepedihan yang akan mampu memahami makna terindah dari kebahagiaan--dalam bentuk terkecil sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...dan pada akhirnya, 'baik' -- 'buruk'; 'menyenangkan' -- 'menyakitkan', hanya soal waktu saja. Pergantian musim yang bergiliran datang saling memberi makna. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Januari 2008 ; 16.37&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-8344171709282101916?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/01/makna.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-343108175163887528</guid><pubDate>Wed, 09 Jan 2008 06:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-08T17:29:02.658+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Esensi</category><title>Malam</title><description>Saya mencintai malam. Entah mengapa, kala malam saya merasa lebih kreatif--bahkan terkadang lebih produktif. Acap kali saya menemukan ide untuk menulis di malam hari. Malam memberi saya ruang untuk mengeksplorasi segenap nuansa hati... Mungkin karena malam nyaris selalu sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesunyian malam saya selalu bisa jadi diri sendiri. Sejujur-jujurnya, sebenar-benarnya. Tak ada topeng yang menempel di wajah, tiada dusta yang perlu terucap. Juga tiada perlu merawi kata sekedar untuk memberi jawab terhadap pertanyaan-pertanyaan yang terlalu menggelisahkan [sebab, tidakkah terkadang kita mesti berterima bahwa ada banyak pertanyaan yang tak kita tahu jawabnya..?]. Malam memberi saya kesempatan untuk menggeledah pikiran saya dan mengurai benang-benang kusut persoalan yang sedang saya hadapi. Dingin tubuh malam menjadi penyejuk untuk beragam gundah yang terkadang berujung marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada kalanya malam terasa sangat bising. Ketika yang lalu datang mengunjungi pikiran: mengendap pelan seperti hantu-hantu telanjang kaki, merayap mendekati... Lalu sekonyong-konyong menabuh genderang memori tepat di dekat kuping. Membuat saya terbangun kaget, dan lantas mengutuki kegaduhan di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, malam...&lt;br /&gt;Di mana sunyimu..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Januari 2008 ; 02.22&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-343108175163887528?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/01/malam.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-2528074915112490065</guid><pubDate>Sat, 05 Jan 2008 10:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-08T17:27:16.646+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Refleksi</category><title>Pilihan</title><description>Hidup adalah pilihan. Saya sangat percaya dengan kalimat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang terkadang kita merasa bahwa kita tak punya pilihan. Ada situasi-situasi yang terasa sangat kelam, hingga membuat kita terjebak dalam kesesakan. Seakan tembok-tembok di sekeliling kita merapat dan menghimpit. Mengungkung tubuh dalam kurungan yang sempit. Namun dalam kondisi sulit, sungguhkah kita tak punya pilihan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempit, sesak, ingin teriak--tapi suara tercekat. Mungkin anda pernah juga merasakannya. Dan kalau sudah begitu, sulit rasanya berpikir tentang pilihan. Tapi bukankah kita bisa memilih, dengan perspektif apa kita memandang tiap persoalan? Ketika kita terpuruk kemiskinan, tidakkah ada orang lain di sekitar kita yang lebih tak punya apa-apa. Ketika kita ditikam kepedihan, bukankah di sekitar kita ada juga orang yang disayat derita. Ketika kita tenggelam dalam kesakitan, bukankah ada orang lain yang sekarat pelan-pelan... Dan ketika prahara hidup mengobrak-abrik kenyamanan kita, tidakkah bisa kita lihat orang lain yang terhempas badai ke jurang nista.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perspektif. Ya, terkadang mengalihkan perspektif kita dari penderitaan yang kita alami sendiri ke ruang hidup yang lebih luas bisa mengubah cara kita memandang masalah yang kita hadapi. Bagi saya, kemampuan dan kesadaran untuk memilih perspektif mana yang kita pakai dalam memandang tiap-tiap persoalan adalah kekayaan yang tak ternilai harganya. Inilah yang menjadi pilihan yang sesungguhnya: Keluasan pikiran dalam sempitnya himpitan ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, bahkan dalam gelap yang paling hitam kita semua masih punya pilihan: Kita bisa mengutuki kekelaman... atau kita bisa menyalakan terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opto, ergo sum.&lt;br /&gt;Aku memilih, maka aku ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Januari 2008 ; 17.08&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-2528074915112490065?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2008/01/pilihan.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5892515514123154835.post-1984465873040968339</guid><pubDate>Sun, 30 Dec 2007 15:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-08T17:26:07.136+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Opini</category><title>Peraturan</title><description>Sejauh ingatan, sepanjang hidup; kebanyakan dari kita sudah mengenal peraturan. Dari mulai aturan di rumah, sekolah, tempat kerja, aturan agama, perda, sampai aturan perundang-undangan negara. Kesemuanya mengikat kita: memberi rambu apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan, mengatur sanksi jika kita melakukan pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah peraturan niscaya selalu baik? Tidak selalu. Tapi aturan memang dibutuhkan. Setidaknya--konon--dengan adanya peraturan, ketentraman dan ketertiban bisa diusahakan, walaupun tidak lantas niscaya terjamin keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, saya termasuk tipe orang yang skeptis memandang apapun yang berlabel 'peraturan'. Yah, sebetulnya sih, saya tipe yang acap kali skeptis memandang banyak hal. Bisa dikatakan, saya bukan jenis orang yang menggemari aturan--apalagi yang rigid. Kenapa? Sebab, dalam banyak kesempatan, saya melihat ketidakseimbangan dalam berbagai peraturan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pernah berkunjung ke supermarket? Di kebanyakan supermarket, ada peraturan untuk menitipkan tas sebelum masuk. Tas, apalagi yang besar, mesti dititipkan demi keamanan barang-barang yang dijual di supermarket. Dengan kata lain, sebelum memasuki supermarket, anda sudah dicurigai akan mencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari--dengan motivasi iseng--saya pernah mengatakan pada petugas penitipan tas bahwa saya membawa uang 10 juta rupiah di dalam tas saya [jelas ini dusta. Sebab--percayalah--saya tak pernah bawa-bawa uang tunai sebanyak itu]. Tapi saya katakan, demi menghormati aturan yang ada, saya tetap akan menitipkan tas saya berikut uang 10 juta yang ada di dalamnya. Dengan tergopoh si petugas menolak dititipi. "Bawa saja tasnya, Mbak." katanya, "Kami tidak bisa bertanggungjawab kalau uangnya hilang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho? Kok gitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi si supermarket membuat aturan supaya barangnya aman, tapi tidak bersedia mempertanggungjawabkan kalau barang yang dititipkan hilang di tangan mereka. Dan aturan seperti ini tidak hanya ada di supermarket, melainkan juga banyak toko jenis lain, atau tempat parkir [sesekali amati tiket parkir anda, biasanya anda bisa menemukan kalimat "Kami tidak bertanggungjawab atas kehilangan... bla bla bla..."]. Untuk saya, ini cukup untuk menjadi sebuah premis, bahwa kebanyakan peraturan dibuat untuk melindungi satu pihak saja; yaitu pihak yang lebih berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus siapa sih yang biasanya menempati posisi 'pihak yang berkuasa' itu? Negara? Ah, nggak juga. Tidak selamanya negara. Dalam konstelasi kekuasaan di wilayah sosial, pihak yang berkuasa tadi biasanya bisa diterjemahkan sebagai pihak-pihak pemilik modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda masih ragu mengakui bahwa peraturan dibuat untuk kepentingan pihak yang berkuasa saja, kita bisa mencari contoh lain. Jika pihak yang berkuasa bisa juga ditafsirkan sebagai pemilik modal, contoh yang paling kentara akan mudah kita temukan jika kita jeli mengamati peraturan perusahaan. Tak perlu menggali peraturan yang njlimet dengan referensi Undang-Undang Ketenagakerjaan dulu, deh. Yang simpel-simpel saja. Misalnya soal kehadiran pegawai. Di perusahaan, biasanya ada aturan yang berkaitan dengan kehadiran pegawai, termasuk jika si pegawai tadi terlambat. Jenis aturannya macam-macam, sanksinya juga macam-macam: dari mulai teguran sampai SP [alias surat peringatan: satu, dua dan seterusnya sampai ancaman pemecatan]. Tapi, pernahkah anda menemukan peraturan perusahaan yang mencantumkan sanksi terhadap perusahaan jika terlambat membayar upah pegawai, atau luput membayar THR, atau mengupah pegawainya separuh dulu [padahal si pegawai nggak mungkin boleh kerja setengahnya dulu, kan?] ...? Saya sih belum pernah menemukan perusahaan yang mempunyai aturan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun memang, kebanyakan orang berterima saja dengan kondisi ini. Alasannya macam-macam: dari mulai pekerjaan yang sulit didapat [kalau topiknya aturan perusahaan tadi], nggak mau repot mikirin, kepasrahan ["Ah, memang biasanya gitu kok. Mau gimana lagi, kita kan hanya orang kecil..."], atau keyakinan mendasar [yang--maaf--menurut saya naif] bahwa aturan itu pasti baik. Yang jelas, rata-rata orang yang saya temui nampaknya tidak berkeberatan dengan soal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya sih, seperti sempat saya singgung juga di atas, saya mengakui bahwa peraturan juga ada gunanya. Namun yang ingin saya katakan disini adalah, ada baiknya kita jeli mengamati semangat apa yang melahirkan peraturan-peraturan yang ada di sekitar kita; dan ini butuh perubahan cara pandang. Sebab dalam hemat saya, aturan hanya bisa menjadi baik apabila dibuat berdasarkan kesepakatan, dengan dialiri semangat keadilan dan kesetaraan. Misalnya, si supermarket atau toko yang membuat aturan penitipan barang tadi mestinya sadar bahwa dia juga butuh konsumen, dan ada baiknya belajar bertanggungjawab juga kalau barang yang dititipkan hilang. Juga dalam hal peraturan perusahaan. Alangkah baiknya jika pemodal bisa mengubah paradigma lama; lantas para pekerja dan pemilik perusahaan menggagas kesadaran untuk membangun relasi setara yang saling membutuhkan, yang adil dan bebas penindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utopis, ya? Memang. Tapi perubahan itu patut diperjuangkan. Dulu, hal ini pernah menggiring saya pada sebuah kegelisahan yang terkadang menyulut amuk. Namun hari ini [mungkin karena saya sudah tambah tua], segala peraturan preketek ini cuma bisa membuat saya tersenyum simpul. Bukan berarti saya menerimanya, sebab saya masih skeptis dan tetap tak menjadi orang yang percaya. Tidak pula berarti saya pasrah, sebab kehendak berlawan dan mempertanyakan ketidakseimbangan [:ketidakadilan] dalam segenap ragam aturan masih menyala dalam diri saya. Hanya cara yang saya pakai mungkin berbeda. Kini saya lebih tertarik memutar otak, bagaimana caranya menumbuhkan kesadaran akan pentingnya membangun relasi adil dan setara di semua bidang dengan cara-cara damai tanpa kekerasan. Sebab, kian hari saya kian yakin bahwa perubahan hanya bisa diperjuangkan dengan kepala dingin, bukan dengan gelora angkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 Desember 2007 ; 21.55&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5892515514123154835-1984465873040968339?l=d-yanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://d-yanti.blogspot.com/2007/12/peraturan.html</link><author>kepik.ungu@gmail.com (Desiyanti)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item></channel></rss>