: untuk L yang sedang bersedih, semoga ikhlas dan lebih tabah, semoga yang terbaik akan segera hadir untukmu.
Di suatu masa yang telah lama lalu [yang mungkin esok akan kembali], seorang gadis kecil sedang sangat berbahagia. Beberapa hari lalu, ibunya memberikan sebuah kalung mutiara berkilau untuknya. Bukan mutiara asli, memang. Sekedar tiruan dari sejenis plastik saja. Tapi sungguh indah kalung itu. Si gadis kecil suka sekali mengamati kilau permukaannya yang halus, lembut memantulkan cahaya.
Tahun demi tahun berlalu. Ibu si gadis kerap memperhatikan anaknya bermain dengan kalung mutiara imitasi pemberiannya dulu. Tiap kali sang ibu memergoki si anak mengagumi kilau kalung mutiara itu, ia tersenyum penuh misteri. Dan pada suatu malam sang ibu berkata pada anaknya, “Nak, bolehkah Ibu minta kembali kalung itu?”
Gadis kecil terperangah. “Mengapa, Bu?” tanyanya gundah, “Apakah aku bersalah? Tidakkah aku selalu menuruti kata Ibu? Mengapa Ibu ingin mengambil kembali kalung kesayanganku itu?” lanjutnya dengan mata berkacakaca.
Sang ibu tak menjawab, ia hanya tersenyum, lalu mengecup dahi anak kesayangannya. Tapi malam berikutnya sang ibu kembali mengulang pinta yang sama—dan tentu saja si gadis kecil tetap mempertahankan kalung kesayangannya.
Hingga hari berganti bulan dan tahun yang baru nyaris tiba mengetuk gerbang waktu, setiap malam ibu dan anak itu mengulang adegan yang nyaris serupa. Tak bosan si anak mempertahankan kalung yang ia anggap sebagai harta terbaiknya. Sampai tibalah malam tahun baru, dan sang ibu kembali bertanya, “Nak, maukah kau memberikan kalung itu kembali pada Ibu?” bisiknya sambil lembut mengelus rambut si gadis kecil.
Kali ini si gadis kecil terdiam lama sekali sebelum menjawabnya. Sungguh ia sangat menyukai kalung mutiaranya, namun apalah arti kalung itu jika dibandingkan dengan kasih yang ia rasakan untuk ibunya? Akhirnya, teriring air mata, si gadis pun lirih berkata, “Baiklah, Bu. Ambillah kalung itu. Aku ikhlas jika itu memang kehendak Ibu.”
Terkembang senyum sang ibu, sungguh wajah yang bahagia. Dengan jemari bergetar si gadis kecil menyerahkan kalung kesayangannya pada ibunya. Matanya kuyup dalam nelangsa. Namun kasihnya pada sang ibu menjadi pengobat luka. Ah, lihatlah… wajah ibu begitu bahagia.
Sejenak sang ibu menimang kalung mutiara kesayangan anaknya. Lalu tanpa kata ia beranjak meninggalkan sang anak yang lantas terisak.
Tak lama kemudian, sang ibu kembali lagi. Di tangannya ia menggenggam kalung mutiara. Bukan cuma satu, tapi ada dua! Lalu ia berkata, “Nak, lihatlah, ini adalah kalung mutiara yang kau berikan barusan pada Ibu. Kalung mutiara imitasi yang bagus sekali. Tapi sebaik apapun, tetap bukan mutiara asli.” Ia menunjukkan kalung yang satunya lagi, “Dan ini adalah kalung mutiara yang telah lama Ibu simpankan untukmu. Lihat pendarnya. Indah, bukan? Ya, tentu lebih indah, sebab untaian ini adalah untaian mutiara yang asli. Malam ini engkau telah belajar melepaskan sesuatu yang engkau sayangi sungguh. Maka Ibu berikan kalung mutiara asli ini untukmu. Sebagai penanda bahwa engkau telah menemukan pelajaran yang sangat berharga: terkadang engkau harus melepaskan dengan ikhlas untuk mendapatkan yang terbaik.”
Ibu dan anak gadisnya itu berpelukan. Lamaaa sekali.
14 Juni 2009 ;22.55
Sunday, August 30, 2009
Tuesday, February 3, 2009
Subaltern
Telah lama ia didera tanpa tahu untuk apa ia tersiksa. Punggung, lengan dan kakinya penuh parut serta luka — tiada habis ia disesah. Cuma seonggok tulang terbalut kulit keriput. Itu saja yang tersisa dari tubuhnya; sebab selama ini ia dipaksa menelan serpihserpih ucapan keji, itu saja santapannya. Dahaga yang ia rasakan dibasuh pahit racun diam: katakata telah dirampas dari mulutnya.
Hanya matanya yang terkadang masih memandangmu dengan tanya, seolah ia ingin berkata, “Pandanglah aku sejenak, kumohon... Sungguhkah aku layak didera?” Tapi kau tak pernah sanggup [atau tak pernah cukup peduli] memandang sepasang mata itu. Entah kenapa. Maka kau palingkan wajahmu penuh jijik tiap kali ia menatapmu.
Malam ini ia menjerit. Kau tak paham apa yang ia ratapkan. Yang kau dengar hanya raungan pilu memecah kelam. Ia seperti berkatakata, tapi engkau tak bisa menangkap maknanya. Terlalu lama ia dicekik racun diam sehingga ia tak lagi mampu berbahasa. Sesekali kau dengar isaknya di antara jeritan itu. Kau tak ingin mendengarnya berlamalama. Terlalu pilu. Lagi pula, deritanya bukan urusanmu.
”Berisik!” teriakmu lantang. Tapi ia terus menjerit dan meratap. Geram, kau datangi ia. Dan sepasang mata itu menyalakan tanya dalam pekat gulita. Masih tanya yang sama. Tanya yang membuatmu muak, tanpa kau tahu alasannya.
Ia beringsut menghampirimu. Lenganlengannya terulur seolah memohon belas kasihanmu. Kau bergegas mundur, tak sudi ia sentuh. Sebab ia kotor. Busuk. Bau. Ia terlalu menjijikkan dan engkau tak mau kulit bersihmu tercemar olehnya. Tapi ia terus beringsut menghampirimu. Perlahan. Tak hendak henti. Sampai akhirnya punggungmu menyentuh dinding dingin.
”Berisik! Berisik! Pergi!” teriakmu lagi. Sepasang mata itu terus menatapmu. Pilu seperti sembilu menusuk dalam ke jiwamu. Kau tak tahan lagi. ”Tidak”, pikirmu, ”ini semua bukan urusanku.” Tapi ia terus mendekat, mengulurkan lenganlengannya padamu. Kau tambah jijik. Kau muak. Kau marah. Lantangmu lagi, ”Apa maumu? Tak ada yang bisa kulakukan buatmu. Ini bukan urusanku!”
Ia tak menyerah.
Amarahmu memuncak. Disertai gelegar raungan murka kau dorong tubuh itu terjerembab ke lantai. Kau cengkram bahunya yang ringkih, lalu kau guncangkan tubuhnya berkalikali. Darah mengucur dari kepalanya yang terbentur pada keras lantai batu. Kau tak peduli. Kau begitu muak pada mahluk ini, walau sesungguhnya kau tak paham mengapa. Lantas kau cabik dadanya dengan kukumu. Kulitnya begitu rapuh, tak sulit kau koyak. Kau cabik tubuh kurus itu dan kau renggut jantungnya. Sejenak, di tanganmu kau rasakan detak lemah jantung mungil yang cuma segenggamanmu. Penuh paksa kau menariknya lepas dari rongga dada. Lalu kau sumpalkan jantung merah itu ke mulutnya.
Ia tak lagi bersuara.
Tinggal mata itu yang masih memandangmu seakan bertanya, ”Layakkah aku didera?” Tapi tanya itu kini tak lagi punya gema. Mata itu sekosong bolabola kaca.
Terengah, kau bangkit dan mundur tergopoh. Kau telah membunuhnya. Entah mengapa kau lakukan itu. Nafasmu memburu, matamu nyalang memandangi lantai yang merah. Darah di manamana: di lantai batu, pakaian dan tangantanganmu. Kau merasa heran, tubuh seciut itu bisa menampung darah sebanyak ini. Lantas kau duduk di sudut, sambil mengatur nafasmu. Tiada sesal. ”Salah sendiri,” pikirmu, ”begitu ribut. Dan semua itu bukan urusanku.”
Usai menenangkan diri, kau bangkit dan berjalan ke pekarangan. Di bawah cucuran air keran kau basuh tanganmu hingga bersih; bersih dari darahnya, bersih dari segala khilaf dan dosa. Seperti Pilatus.
Desir angin membisikkan nyanyian hening. Kau tegakkan tubuhmu, tengadah memandang langit. Bulan jingga tersenyum menatapmu.
3 Februari 2009 ; 06.50
author's note:
This note is just a first draft. It's probably an embryo of a story... or maybe I'm just raving mad. It is written while thinking of Gayatri Spivak "Can subaltern speak?"
Hanya matanya yang terkadang masih memandangmu dengan tanya, seolah ia ingin berkata, “Pandanglah aku sejenak, kumohon... Sungguhkah aku layak didera?” Tapi kau tak pernah sanggup [atau tak pernah cukup peduli] memandang sepasang mata itu. Entah kenapa. Maka kau palingkan wajahmu penuh jijik tiap kali ia menatapmu.
Malam ini ia menjerit. Kau tak paham apa yang ia ratapkan. Yang kau dengar hanya raungan pilu memecah kelam. Ia seperti berkatakata, tapi engkau tak bisa menangkap maknanya. Terlalu lama ia dicekik racun diam sehingga ia tak lagi mampu berbahasa. Sesekali kau dengar isaknya di antara jeritan itu. Kau tak ingin mendengarnya berlamalama. Terlalu pilu. Lagi pula, deritanya bukan urusanmu.
”Berisik!” teriakmu lantang. Tapi ia terus menjerit dan meratap. Geram, kau datangi ia. Dan sepasang mata itu menyalakan tanya dalam pekat gulita. Masih tanya yang sama. Tanya yang membuatmu muak, tanpa kau tahu alasannya.
Ia beringsut menghampirimu. Lenganlengannya terulur seolah memohon belas kasihanmu. Kau bergegas mundur, tak sudi ia sentuh. Sebab ia kotor. Busuk. Bau. Ia terlalu menjijikkan dan engkau tak mau kulit bersihmu tercemar olehnya. Tapi ia terus beringsut menghampirimu. Perlahan. Tak hendak henti. Sampai akhirnya punggungmu menyentuh dinding dingin.
”Berisik! Berisik! Pergi!” teriakmu lagi. Sepasang mata itu terus menatapmu. Pilu seperti sembilu menusuk dalam ke jiwamu. Kau tak tahan lagi. ”Tidak”, pikirmu, ”ini semua bukan urusanku.” Tapi ia terus mendekat, mengulurkan lenganlengannya padamu. Kau tambah jijik. Kau muak. Kau marah. Lantangmu lagi, ”Apa maumu? Tak ada yang bisa kulakukan buatmu. Ini bukan urusanku!”
Ia tak menyerah.
Amarahmu memuncak. Disertai gelegar raungan murka kau dorong tubuh itu terjerembab ke lantai. Kau cengkram bahunya yang ringkih, lalu kau guncangkan tubuhnya berkalikali. Darah mengucur dari kepalanya yang terbentur pada keras lantai batu. Kau tak peduli. Kau begitu muak pada mahluk ini, walau sesungguhnya kau tak paham mengapa. Lantas kau cabik dadanya dengan kukumu. Kulitnya begitu rapuh, tak sulit kau koyak. Kau cabik tubuh kurus itu dan kau renggut jantungnya. Sejenak, di tanganmu kau rasakan detak lemah jantung mungil yang cuma segenggamanmu. Penuh paksa kau menariknya lepas dari rongga dada. Lalu kau sumpalkan jantung merah itu ke mulutnya.
Ia tak lagi bersuara.
Tinggal mata itu yang masih memandangmu seakan bertanya, ”Layakkah aku didera?” Tapi tanya itu kini tak lagi punya gema. Mata itu sekosong bolabola kaca.
Terengah, kau bangkit dan mundur tergopoh. Kau telah membunuhnya. Entah mengapa kau lakukan itu. Nafasmu memburu, matamu nyalang memandangi lantai yang merah. Darah di manamana: di lantai batu, pakaian dan tangantanganmu. Kau merasa heran, tubuh seciut itu bisa menampung darah sebanyak ini. Lantas kau duduk di sudut, sambil mengatur nafasmu. Tiada sesal. ”Salah sendiri,” pikirmu, ”begitu ribut. Dan semua itu bukan urusanku.”
Usai menenangkan diri, kau bangkit dan berjalan ke pekarangan. Di bawah cucuran air keran kau basuh tanganmu hingga bersih; bersih dari darahnya, bersih dari segala khilaf dan dosa. Seperti Pilatus.
Desir angin membisikkan nyanyian hening. Kau tegakkan tubuhmu, tengadah memandang langit. Bulan jingga tersenyum menatapmu.
3 Februari 2009 ; 06.50
author's note:
This note is just a first draft. It's probably an embryo of a story... or maybe I'm just raving mad. It is written while thinking of Gayatri Spivak "Can subaltern speak?"
Saturday, November 8, 2008
...atau nasionalisme?
“… Aku mencintainya seperti embun yang rela menguap bersama cahaya tiap kali mentari pagi datang menyapa. Aku mencintainya bersama nyanyian burung-burung gereja. Aku mencintainya seperti dedaunan yang ikhlas menyerpih menjadi humus penyubur tanah gersang. Aku mencintainya bersama pepohonan yang tetap tegak di tengah badai tanpa lindungan. Aku mencintainya seperti gemeretak kayu bakar yang rela menjadi abu demi memberi hangat. Aku mencintainya dengan tubuh yang penuh luka. Aku mencintainya bersama air mata.
Aku mencintainya…” **
Mukadimah
Pernahkah anda jatuh cinta… sedemikian dalam, dan tak terbalaskan? Ada kerinduan yang menggerogoti hati, yang membuat detak jantung terhentak-hentak seperti mau meledak. Ada gelombang hasrat untuk sekedar dilirik—kalau mungkin sedikit diperhatikan—sedetik saja. Ada gundah karena ‘dia’ tak juga mau hadir untuk menyapa. Ah, setiap kali saya berpikir tentang Indonesia, seperti itu kiranya yang saya rasa.
Menjadi perempuan di sebuah negara bernama Indonesia bukanlah perkara mudah. Pola budaya yang kental dengan kuasa patriarki telak menjadi kerikil tajam yang membuat langkah tertatih nyeri. Kebijakan-kebijakan politik hadir dengan aroma testosteron yang menyengat, acap kali membuat nafas saya tersengal sesak. Dilengkapi aparat publik yang kelewat sibuk berkutat dengan agenda mereka sendiri [dan karena kebanyakan dari mereka lelaki, tak jarang kepentingan perempuan tersisih ke pinggiran jurang].
Frustrasi! Ingin teriak, “Buat apa negara ini kalau kami tak punya ruang buat utuh jadi manusia..?”
Begitulah…
Tapi entah kenapa, cinta saya pada bangsa dan negara ini tak juga lekang. Negara… Negara… Ah, apaan sih negara..?
Selintas Tentang Negara
Bayangkan sebuah wilayah, ruang lepas: tanah, air dan udara. Sekelompok orang tinggal di sana, menghidupi diri mereka dari sumber daya yang tersedia. Menikmati kesuburan tanahnya yang memberi mereka makanan dan penghidupan. Menikmati kekayaan lautnya, dan menghirup udara bebasnya dalam hela nafas mereka.
Lalu kelompok orang ini makin lama makin banyak. Mereka harus mengelola sumber daya yang ada supaya mencukupi buat semua. Mereka juga mesti membuat aturan yang disepakati bersama, supaya tak terjadi konflik yang bisa menghancurkan pola kehidupan mereka yang mulai terasa nyaman. Dan tentu saja, mereka juga harus melindungi diri dari serangan kelompok lain yang mungkin ingin merebut sumber daya yang mereka punya. Untuk itu kelompok manusia di wilayah tadi membentuk suatu pengorganisasian masyarakat yang kita kenal sebagai negara.
Ya, sederhananya, negara adalah sebuah sistem pengorganisasian masyarakat yang serupa tapi tak sama dengan jenis organisasi lainnya yang dikenal umum. Serupa misalnya, karena ada struktur organisasi di sana. Dimana orang-orang yang dianggap kompeten dipilih untuk menduduki jabatan sebagai pengelola negara [: pemerintah]. Namun tentu berbeda juga dengan jenis organisasi lainnya, karena negara punya kuasa yang sangat besar atas warganya. Salah satu perbedaan terbesar antara negara dengan jenis organisasi lain adalah kekuasaan negara untuk mencabut hak hidup warganya.
Dalam pemahaman ketatanegaraan, untuk menjadi sebuah negara ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu: memiliki rakyat, memiliki wilayah, dan memiliki kedaulatan—artinya negara itu mendapatkan pengakuan dari rakyatnya dan pihak-pihak lain di luar dirinya bahwa ia memegang kekuasaan tertinggi atas warga dan wilayah tempatnya berada.
Keberadaan negara biasanya dimaksudkan untuk memudahkan anggotanya [: rakyat] untuk mencapai cita-cita kolektif yang dirumuskan dalam Konstitusi negara. Untuk memudahkan pencapaiannya, negara membuat aturan yang dikenal sebagai hukum. Seiring waktu, negara modern memfasilitasi rakyatnya untuk mencapai cita-cita bersama tadi dengan cara-cara yang lebih demokratis. Bentuk yang paling nyata dari pewujudan cita-cita bersama yang dirumuskan dalam konstitusi tadi adalah dengan adanya pelayanan publik; juga jaminan keamanan bagi rakyatnya. Semakin baik layanan publik yang ada di suatu negara, semakin besar rasa aman yang dihayati oleh rakyatnya, maka semakin baik pula negara itu menjalankan fungsinya.
Jika rakyat yang tinggal di suatu wilayah tertentu mempunyai identitas bersama—maksudnya ada kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya, dan/atau sejarah; maka mereka disebut sebuah bangsa. Dan jika rakyat yang tinggal di wilayah sebuah negara juga merupakan bangsa yang sama, maka negara itu disebut sebagai negara kebangsaan [: nation-state].
Negara Tanda Tanya
Nah, itu tadi soal negara. Mudah-mudahan runutan singkat tadi tidak terlalu memusingkan, sebab kini kita akan mulai memasuki wilayah yang selalu berhasil membuat saya frustrasi sampai meriang tanpa ampun.
Carut marut kondisi sosial-politik-ekonomi di Indonesia sudah sedemikian kompleks dan kusut sehingga saya mesti jujur dan lapang dada mengakui bahwa saya tak sanggup merunutnya dengan baik dalam tulisan ini. Saya cuma bisa berharap, kita sudi sejenak menelaah kenyataan dengan jujur dalam hening: sudahkah negara ini berfungsi dengan optimal sebagai perangkat pencapaian cita-cita bersama kita yang terumus dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan konstitusi negara kita? Apakah pengelola negara [: pemerintah] yang kini memangku jabatan memang merupakan orang-orang pilihan yang kompeten di bidangnya? Sudahkah negara memberikan pelayanan publik yang baik buat rakyat? Sudahkah kita bisa menghela nafas lega dengan rasa aman yang diberikan oleh negara? Adakah kesetaraan dan keadilan bagi setiap warga negara, tak peduli ia kaya atau miskin, perempuan atau laki-laki, apapun suku atau etnisnya? Sudahkah semangat kesetaraan dan keadilan barusan menjadi jiwa dari kebijakan-kebijakan yang dibuat di negara ini?
Ya, memang pertanyaan-pertanyaan di atas biasanya lantas sekedar menjadi retorika saja. Mungkin anda yang sudah merasa bosan dan lelah melihat kekacauan dan ketidakadilan yang membadai di sekeliling akan muak membaca pertanyaan-pertanyaan tadi. Jujur, saya juga sebel. Lalu kalau bosan dan lelah, apakah kita mesti tutup mata, pura-pura nggak tahu terhadap kenyataan pahit yang ada? Apakah baik kalau kita mengingkari kenyataan sekedar karena kita merasa tak punya cukup daya untuk membuat perubahan? Apakah kita mesti berhenti mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi? Dan jika memang ada di antara kita yang pernah mencoba menginisiasi perubahan—dengan berbagai cara semampu kita—hanya untuk mendapati tubuh dan jiwa kita babak belur terdera; apakah semangat berlawan lantas mesti padam? Tidak, kawan-kawan. Sebab saya yakin, kita cuma bisa membuat perubahan ketika kita sudah belajar berdamai dengan kenyataan. Sepahit apapun kenyataan itu adanya.
Akhiran Berujung Entah…
Lelah. Bosan. Kecewa. Frustrasi.
Kira-kira seperti itulah yang saya rasakan kalau sedang tiba-tiba merenungi berbagai hal yang terjadi di negara yang saya cintai ini. Sebagai perempuan rakyat jelata yang tak punya kuasa, saya merasa demikian tidak berdaya. Merasa begitu tersisih dan tak berarti apa-apa.
Gilanya, seperti apapun kondisi negara bernama Indonesia ini, seperti apapun dia nyuekin saya dalam pengelolaan dan kebijakan-kebijakannya yang tidak berpihak pada mahluk-mahluk terpinggirkan seperti saya, tetap saja saya cinta mati padanya. Ya. Cinta mati. Sungguh.
Nah, bagaimana menurut kawan-kawan. Apakah kisah cinta tak berbalas ini sekedar kisah cinta buta yang tolol... atau nasionalisme?
“…dan orang-orang tertawa. Aku dungu, kata mereka. ‘Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah peduli! Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah memberimu arti.’ Begitu seru mereka.
Aku tetap mencintainya.
…serangkaian pulau yang dinamai Nusantara. Sebuah bangsa yang sedang dirundung duka. Negara dan bangsa yang mengadopsi nama Indonesia. Aku mencintainya. Cinta mati. Sungguh.” ***
- - -
* Serupa catatan pengantar diskusi untuk Madrasah Falsafah Tobucil; Rabu, 5 November 2008.
** http://d-yanti.blogspot.com/2008/03/cinta-mati.html
*** ibid.
Aku mencintainya…” **
Mukadimah
Pernahkah anda jatuh cinta… sedemikian dalam, dan tak terbalaskan? Ada kerinduan yang menggerogoti hati, yang membuat detak jantung terhentak-hentak seperti mau meledak. Ada gelombang hasrat untuk sekedar dilirik—kalau mungkin sedikit diperhatikan—sedetik saja. Ada gundah karena ‘dia’ tak juga mau hadir untuk menyapa. Ah, setiap kali saya berpikir tentang Indonesia, seperti itu kiranya yang saya rasa.
Menjadi perempuan di sebuah negara bernama Indonesia bukanlah perkara mudah. Pola budaya yang kental dengan kuasa patriarki telak menjadi kerikil tajam yang membuat langkah tertatih nyeri. Kebijakan-kebijakan politik hadir dengan aroma testosteron yang menyengat, acap kali membuat nafas saya tersengal sesak. Dilengkapi aparat publik yang kelewat sibuk berkutat dengan agenda mereka sendiri [dan karena kebanyakan dari mereka lelaki, tak jarang kepentingan perempuan tersisih ke pinggiran jurang].
Frustrasi! Ingin teriak, “Buat apa negara ini kalau kami tak punya ruang buat utuh jadi manusia..?”
Begitulah…
Tapi entah kenapa, cinta saya pada bangsa dan negara ini tak juga lekang. Negara… Negara… Ah, apaan sih negara..?
Selintas Tentang Negara
Bayangkan sebuah wilayah, ruang lepas: tanah, air dan udara. Sekelompok orang tinggal di sana, menghidupi diri mereka dari sumber daya yang tersedia. Menikmati kesuburan tanahnya yang memberi mereka makanan dan penghidupan. Menikmati kekayaan lautnya, dan menghirup udara bebasnya dalam hela nafas mereka.
Lalu kelompok orang ini makin lama makin banyak. Mereka harus mengelola sumber daya yang ada supaya mencukupi buat semua. Mereka juga mesti membuat aturan yang disepakati bersama, supaya tak terjadi konflik yang bisa menghancurkan pola kehidupan mereka yang mulai terasa nyaman. Dan tentu saja, mereka juga harus melindungi diri dari serangan kelompok lain yang mungkin ingin merebut sumber daya yang mereka punya. Untuk itu kelompok manusia di wilayah tadi membentuk suatu pengorganisasian masyarakat yang kita kenal sebagai negara.
Ya, sederhananya, negara adalah sebuah sistem pengorganisasian masyarakat yang serupa tapi tak sama dengan jenis organisasi lainnya yang dikenal umum. Serupa misalnya, karena ada struktur organisasi di sana. Dimana orang-orang yang dianggap kompeten dipilih untuk menduduki jabatan sebagai pengelola negara [: pemerintah]. Namun tentu berbeda juga dengan jenis organisasi lainnya, karena negara punya kuasa yang sangat besar atas warganya. Salah satu perbedaan terbesar antara negara dengan jenis organisasi lain adalah kekuasaan negara untuk mencabut hak hidup warganya.
Dalam pemahaman ketatanegaraan, untuk menjadi sebuah negara ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu: memiliki rakyat, memiliki wilayah, dan memiliki kedaulatan—artinya negara itu mendapatkan pengakuan dari rakyatnya dan pihak-pihak lain di luar dirinya bahwa ia memegang kekuasaan tertinggi atas warga dan wilayah tempatnya berada.
Keberadaan negara biasanya dimaksudkan untuk memudahkan anggotanya [: rakyat] untuk mencapai cita-cita kolektif yang dirumuskan dalam Konstitusi negara. Untuk memudahkan pencapaiannya, negara membuat aturan yang dikenal sebagai hukum. Seiring waktu, negara modern memfasilitasi rakyatnya untuk mencapai cita-cita bersama tadi dengan cara-cara yang lebih demokratis. Bentuk yang paling nyata dari pewujudan cita-cita bersama yang dirumuskan dalam konstitusi tadi adalah dengan adanya pelayanan publik; juga jaminan keamanan bagi rakyatnya. Semakin baik layanan publik yang ada di suatu negara, semakin besar rasa aman yang dihayati oleh rakyatnya, maka semakin baik pula negara itu menjalankan fungsinya.
Jika rakyat yang tinggal di suatu wilayah tertentu mempunyai identitas bersama—maksudnya ada kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya, dan/atau sejarah; maka mereka disebut sebuah bangsa. Dan jika rakyat yang tinggal di wilayah sebuah negara juga merupakan bangsa yang sama, maka negara itu disebut sebagai negara kebangsaan [: nation-state].
Negara Tanda Tanya
Nah, itu tadi soal negara. Mudah-mudahan runutan singkat tadi tidak terlalu memusingkan, sebab kini kita akan mulai memasuki wilayah yang selalu berhasil membuat saya frustrasi sampai meriang tanpa ampun.
Carut marut kondisi sosial-politik-ekonomi di Indonesia sudah sedemikian kompleks dan kusut sehingga saya mesti jujur dan lapang dada mengakui bahwa saya tak sanggup merunutnya dengan baik dalam tulisan ini. Saya cuma bisa berharap, kita sudi sejenak menelaah kenyataan dengan jujur dalam hening: sudahkah negara ini berfungsi dengan optimal sebagai perangkat pencapaian cita-cita bersama kita yang terumus dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan konstitusi negara kita? Apakah pengelola negara [: pemerintah] yang kini memangku jabatan memang merupakan orang-orang pilihan yang kompeten di bidangnya? Sudahkah negara memberikan pelayanan publik yang baik buat rakyat? Sudahkah kita bisa menghela nafas lega dengan rasa aman yang diberikan oleh negara? Adakah kesetaraan dan keadilan bagi setiap warga negara, tak peduli ia kaya atau miskin, perempuan atau laki-laki, apapun suku atau etnisnya? Sudahkah semangat kesetaraan dan keadilan barusan menjadi jiwa dari kebijakan-kebijakan yang dibuat di negara ini?
Ya, memang pertanyaan-pertanyaan di atas biasanya lantas sekedar menjadi retorika saja. Mungkin anda yang sudah merasa bosan dan lelah melihat kekacauan dan ketidakadilan yang membadai di sekeliling akan muak membaca pertanyaan-pertanyaan tadi. Jujur, saya juga sebel. Lalu kalau bosan dan lelah, apakah kita mesti tutup mata, pura-pura nggak tahu terhadap kenyataan pahit yang ada? Apakah baik kalau kita mengingkari kenyataan sekedar karena kita merasa tak punya cukup daya untuk membuat perubahan? Apakah kita mesti berhenti mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi? Dan jika memang ada di antara kita yang pernah mencoba menginisiasi perubahan—dengan berbagai cara semampu kita—hanya untuk mendapati tubuh dan jiwa kita babak belur terdera; apakah semangat berlawan lantas mesti padam? Tidak, kawan-kawan. Sebab saya yakin, kita cuma bisa membuat perubahan ketika kita sudah belajar berdamai dengan kenyataan. Sepahit apapun kenyataan itu adanya.
Akhiran Berujung Entah…
Lelah. Bosan. Kecewa. Frustrasi.
Kira-kira seperti itulah yang saya rasakan kalau sedang tiba-tiba merenungi berbagai hal yang terjadi di negara yang saya cintai ini. Sebagai perempuan rakyat jelata yang tak punya kuasa, saya merasa demikian tidak berdaya. Merasa begitu tersisih dan tak berarti apa-apa.
Gilanya, seperti apapun kondisi negara bernama Indonesia ini, seperti apapun dia nyuekin saya dalam pengelolaan dan kebijakan-kebijakannya yang tidak berpihak pada mahluk-mahluk terpinggirkan seperti saya, tetap saja saya cinta mati padanya. Ya. Cinta mati. Sungguh.
Nah, bagaimana menurut kawan-kawan. Apakah kisah cinta tak berbalas ini sekedar kisah cinta buta yang tolol... atau nasionalisme?
“…dan orang-orang tertawa. Aku dungu, kata mereka. ‘Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah peduli! Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah memberimu arti.’ Begitu seru mereka.
Aku tetap mencintainya.
…serangkaian pulau yang dinamai Nusantara. Sebuah bangsa yang sedang dirundung duka. Negara dan bangsa yang mengadopsi nama Indonesia. Aku mencintainya. Cinta mati. Sungguh.” ***
- - -
* Serupa catatan pengantar diskusi untuk Madrasah Falsafah Tobucil; Rabu, 5 November 2008.
** http://d-yanti.blogspot.com/2008/03/cinta-mati.html
*** ibid.
Saturday, October 4, 2008
shh..!
ingin kukoyak topeng tebalmu
guyurkan hujan untuk menghapus riasan manismu
mulut madu bersalut gulagula palsu
membebalkan kupingkuping yang terbuai dustamu.
tubuh rapuhmu persembunyian monster berkepala dua
bercabang lidahnya berbisa; dahi bercula tiga
gelap yang mengalir di nadimu menetes deras -
jauh dari lubuk hatimu nir cahaya.
kau pinta lidahlidah api menggila menjilatmu
katamu, kau ingin bolabola bara menabrakmu
supaya runtuh dunia kecil penuh basabasi merdumu;
kuserukan 'amin!' buat harapmu.
biar luruh semua dustamu.
biar nampak wajah aslimu.
biar lepuh topeng tebalmu.
shh..!
4 oktober 2008 ; 16.13
guyurkan hujan untuk menghapus riasan manismu
mulut madu bersalut gulagula palsu
membebalkan kupingkuping yang terbuai dustamu.
tubuh rapuhmu persembunyian monster berkepala dua
bercabang lidahnya berbisa; dahi bercula tiga
gelap yang mengalir di nadimu menetes deras -
jauh dari lubuk hatimu nir cahaya.
kau pinta lidahlidah api menggila menjilatmu
katamu, kau ingin bolabola bara menabrakmu
supaya runtuh dunia kecil penuh basabasi merdumu;
kuserukan 'amin!' buat harapmu.
biar luruh semua dustamu.
biar nampak wajah aslimu.
biar lepuh topeng tebalmu.
shh..!
4 oktober 2008 ; 16.13
Subscribe to:
Posts (Atom)
