Telah lama ia didera tanpa tahu untuk apa ia tersiksa. Punggung, lengan dan kakinya penuh parut serta luka — tiada habis ia disesah. Cuma seonggok tulang terbalut kulit keriput. Itu saja yang tersisa dari tubuhnya; sebab selama ini ia dipaksa menelan serpihserpih ucapan keji, itu saja santapannya. Dahaga yang ia rasakan dibasuh pahit racun diam: katakata telah dirampas dari mulutnya.
Hanya matanya yang terkadang masih memandangmu dengan tanya, seolah ia ingin berkata, “Pandanglah aku sejenak, kumohon... Sungguhkah aku layak didera?” Tapi kau tak pernah sanggup [atau tak pernah cukup peduli] memandang sepasang mata itu. Entah kenapa. Maka kau palingkan wajahmu penuh jijik tiap kali ia menatapmu.
Malam ini ia menjerit. Kau tak paham apa yang ia ratapkan. Yang kau dengar hanya raungan pilu memecah kelam. Ia seperti berkatakata, tapi engkau tak bisa menangkap maknanya. Terlalu lama ia dicekik racun diam sehingga ia tak lagi mampu berbahasa. Sesekali kau dengar isaknya di antara jeritan itu. Kau tak ingin mendengarnya berlamalama. Terlalu pilu. Lagi pula, deritanya bukan urusanmu.
”Berisik!” teriakmu lantang. Tapi ia terus menjerit dan meratap. Geram, kau datangi ia. Dan sepasang mata itu menyalakan tanya dalam pekat gulita. Masih tanya yang sama. Tanya yang membuatmu muak, tanpa kau tahu alasannya.
Ia beringsut menghampirimu. Lenganlengannya terulur seolah memohon belas kasihanmu. Kau bergegas mundur, tak sudi ia sentuh. Sebab ia kotor. Busuk. Bau. Ia terlalu menjijikkan dan engkau tak mau kulit bersihmu tercemar olehnya. Tapi ia terus beringsut menghampirimu. Perlahan. Tak hendak henti. Sampai akhirnya punggungmu menyentuh dinding dingin.
”Berisik! Berisik! Pergi!” teriakmu lagi. Sepasang mata itu terus menatapmu. Pilu seperti sembilu menusuk dalam ke jiwamu. Kau tak tahan lagi. ”Tidak”, pikirmu, ”ini semua bukan urusanku.” Tapi ia terus mendekat, mengulurkan lenganlengannya padamu. Kau tambah jijik. Kau muak. Kau marah. Lantangmu lagi, ”Apa maumu? Tak ada yang bisa kulakukan buatmu. Ini bukan urusanku!”
Ia tak menyerah.
Amarahmu memuncak. Disertai gelegar raungan murka kau dorong tubuh itu terjerembab ke lantai. Kau cengkram bahunya yang ringkih, lalu kau guncangkan tubuhnya berkalikali. Darah mengucur dari kepalanya yang terbentur pada keras lantai batu. Kau tak peduli. Kau begitu muak pada mahluk ini, walau sesungguhnya kau tak paham mengapa. Lantas kau cabik dadanya dengan kukumu. Kulitnya begitu rapuh, tak sulit kau koyak. Kau cabik tubuh kurus itu dan kau renggut jantungnya. Sejenak, di tanganmu kau rasakan detak lemah jantung mungil yang cuma segenggamanmu. Penuh paksa kau menariknya lepas dari rongga dada. Lalu kau sumpalkan jantung merah itu ke mulutnya.
Ia tak lagi bersuara.
Tinggal mata itu yang masih memandangmu seakan bertanya, ”Layakkah aku didera?” Tapi tanya itu kini tak lagi punya gema. Mata itu sekosong bolabola kaca.
Terengah, kau bangkit dan mundur tergopoh. Kau telah membunuhnya. Entah mengapa kau lakukan itu. Nafasmu memburu, matamu nyalang memandangi lantai yang merah. Darah di manamana: di lantai batu, pakaian dan tangantanganmu. Kau merasa heran, tubuh seciut itu bisa menampung darah sebanyak ini. Lantas kau duduk di sudut, sambil mengatur nafasmu. Tiada sesal. ”Salah sendiri,” pikirmu, ”begitu ribut. Dan semua itu bukan urusanku.”
Usai menenangkan diri, kau bangkit dan berjalan ke pekarangan. Di bawah cucuran air keran kau basuh tanganmu hingga bersih; bersih dari darahnya, bersih dari segala khilaf dan dosa. Seperti Pilatus.
Desir angin membisikkan nyanyian hening. Kau tegakkan tubuhmu, tengadah memandang langit. Bulan jingga tersenyum menatapmu.
3 Februari 2009 ; 06.50
author's note:
This note is just a first draft. It's probably an embryo of a story... or maybe I'm just raving mad. It is written while thinking of Gayatri Spivak "Can subaltern speak?"
Tuesday, February 3, 2009
Saturday, November 8, 2008
...atau nasionalisme?
“… Aku mencintainya seperti embun yang rela menguap bersama cahaya tiap kali mentari pagi datang menyapa. Aku mencintainya bersama nyanyian burung-burung gereja. Aku mencintainya seperti dedaunan yang ikhlas menyerpih menjadi humus penyubur tanah gersang. Aku mencintainya bersama pepohonan yang tetap tegak di tengah badai tanpa lindungan. Aku mencintainya seperti gemeretak kayu bakar yang rela menjadi abu demi memberi hangat. Aku mencintainya dengan tubuh yang penuh luka. Aku mencintainya bersama air mata.
Aku mencintainya…” **
Mukadimah
Pernahkah anda jatuh cinta… sedemikian dalam, dan tak terbalaskan? Ada kerinduan yang menggerogoti hati, yang membuat detak jantung terhentak-hentak seperti mau meledak. Ada gelombang hasrat untuk sekedar dilirik—kalau mungkin sedikit diperhatikan—sedetik saja. Ada gundah karena ‘dia’ tak juga mau hadir untuk menyapa. Ah, setiap kali saya berpikir tentang Indonesia, seperti itu kiranya yang saya rasa.
Menjadi perempuan di sebuah negara bernama Indonesia bukanlah perkara mudah. Pola budaya yang kental dengan kuasa patriarki telak menjadi kerikil tajam yang membuat langkah tertatih nyeri. Kebijakan-kebijakan politik hadir dengan aroma testosteron yang menyengat, acap kali membuat nafas saya tersengal sesak. Dilengkapi aparat publik yang kelewat sibuk berkutat dengan agenda mereka sendiri [dan karena kebanyakan dari mereka lelaki, tak jarang kepentingan perempuan tersisih ke pinggiran jurang].
Frustrasi! Ingin teriak, “Buat apa negara ini kalau kami tak punya ruang buat utuh jadi manusia..?”
Begitulah…
Tapi entah kenapa, cinta saya pada bangsa dan negara ini tak juga lekang. Negara… Negara… Ah, apaan sih negara..?
Selintas Tentang Negara
Bayangkan sebuah wilayah, ruang lepas: tanah, air dan udara. Sekelompok orang tinggal di sana, menghidupi diri mereka dari sumber daya yang tersedia. Menikmati kesuburan tanahnya yang memberi mereka makanan dan penghidupan. Menikmati kekayaan lautnya, dan menghirup udara bebasnya dalam hela nafas mereka.
Lalu kelompok orang ini makin lama makin banyak. Mereka harus mengelola sumber daya yang ada supaya mencukupi buat semua. Mereka juga mesti membuat aturan yang disepakati bersama, supaya tak terjadi konflik yang bisa menghancurkan pola kehidupan mereka yang mulai terasa nyaman. Dan tentu saja, mereka juga harus melindungi diri dari serangan kelompok lain yang mungkin ingin merebut sumber daya yang mereka punya. Untuk itu kelompok manusia di wilayah tadi membentuk suatu pengorganisasian masyarakat yang kita kenal sebagai negara.
Ya, sederhananya, negara adalah sebuah sistem pengorganisasian masyarakat yang serupa tapi tak sama dengan jenis organisasi lainnya yang dikenal umum. Serupa misalnya, karena ada struktur organisasi di sana. Dimana orang-orang yang dianggap kompeten dipilih untuk menduduki jabatan sebagai pengelola negara [: pemerintah]. Namun tentu berbeda juga dengan jenis organisasi lainnya, karena negara punya kuasa yang sangat besar atas warganya. Salah satu perbedaan terbesar antara negara dengan jenis organisasi lain adalah kekuasaan negara untuk mencabut hak hidup warganya.
Dalam pemahaman ketatanegaraan, untuk menjadi sebuah negara ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu: memiliki rakyat, memiliki wilayah, dan memiliki kedaulatan—artinya negara itu mendapatkan pengakuan dari rakyatnya dan pihak-pihak lain di luar dirinya bahwa ia memegang kekuasaan tertinggi atas warga dan wilayah tempatnya berada.
Keberadaan negara biasanya dimaksudkan untuk memudahkan anggotanya [: rakyat] untuk mencapai cita-cita kolektif yang dirumuskan dalam Konstitusi negara. Untuk memudahkan pencapaiannya, negara membuat aturan yang dikenal sebagai hukum. Seiring waktu, negara modern memfasilitasi rakyatnya untuk mencapai cita-cita bersama tadi dengan cara-cara yang lebih demokratis. Bentuk yang paling nyata dari pewujudan cita-cita bersama yang dirumuskan dalam konstitusi tadi adalah dengan adanya pelayanan publik; juga jaminan keamanan bagi rakyatnya. Semakin baik layanan publik yang ada di suatu negara, semakin besar rasa aman yang dihayati oleh rakyatnya, maka semakin baik pula negara itu menjalankan fungsinya.
Jika rakyat yang tinggal di suatu wilayah tertentu mempunyai identitas bersama—maksudnya ada kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya, dan/atau sejarah; maka mereka disebut sebuah bangsa. Dan jika rakyat yang tinggal di wilayah sebuah negara juga merupakan bangsa yang sama, maka negara itu disebut sebagai negara kebangsaan [: nation-state].
Negara Tanda Tanya
Nah, itu tadi soal negara. Mudah-mudahan runutan singkat tadi tidak terlalu memusingkan, sebab kini kita akan mulai memasuki wilayah yang selalu berhasil membuat saya frustrasi sampai meriang tanpa ampun.
Carut marut kondisi sosial-politik-ekonomi di Indonesia sudah sedemikian kompleks dan kusut sehingga saya mesti jujur dan lapang dada mengakui bahwa saya tak sanggup merunutnya dengan baik dalam tulisan ini. Saya cuma bisa berharap, kita sudi sejenak menelaah kenyataan dengan jujur dalam hening: sudahkah negara ini berfungsi dengan optimal sebagai perangkat pencapaian cita-cita bersama kita yang terumus dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan konstitusi negara kita? Apakah pengelola negara [: pemerintah] yang kini memangku jabatan memang merupakan orang-orang pilihan yang kompeten di bidangnya? Sudahkah negara memberikan pelayanan publik yang baik buat rakyat? Sudahkah kita bisa menghela nafas lega dengan rasa aman yang diberikan oleh negara? Adakah kesetaraan dan keadilan bagi setiap warga negara, tak peduli ia kaya atau miskin, perempuan atau laki-laki, apapun suku atau etnisnya? Sudahkah semangat kesetaraan dan keadilan barusan menjadi jiwa dari kebijakan-kebijakan yang dibuat di negara ini?
Ya, memang pertanyaan-pertanyaan di atas biasanya lantas sekedar menjadi retorika saja. Mungkin anda yang sudah merasa bosan dan lelah melihat kekacauan dan ketidakadilan yang membadai di sekeliling akan muak membaca pertanyaan-pertanyaan tadi. Jujur, saya juga sebel. Lalu kalau bosan dan lelah, apakah kita mesti tutup mata, pura-pura nggak tahu terhadap kenyataan pahit yang ada? Apakah baik kalau kita mengingkari kenyataan sekedar karena kita merasa tak punya cukup daya untuk membuat perubahan? Apakah kita mesti berhenti mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi? Dan jika memang ada di antara kita yang pernah mencoba menginisiasi perubahan—dengan berbagai cara semampu kita—hanya untuk mendapati tubuh dan jiwa kita babak belur terdera; apakah semangat berlawan lantas mesti padam? Tidak, kawan-kawan. Sebab saya yakin, kita cuma bisa membuat perubahan ketika kita sudah belajar berdamai dengan kenyataan. Sepahit apapun kenyataan itu adanya.
Akhiran Berujung Entah…
Lelah. Bosan. Kecewa. Frustrasi.
Kira-kira seperti itulah yang saya rasakan kalau sedang tiba-tiba merenungi berbagai hal yang terjadi di negara yang saya cintai ini. Sebagai perempuan rakyat jelata yang tak punya kuasa, saya merasa demikian tidak berdaya. Merasa begitu tersisih dan tak berarti apa-apa.
Gilanya, seperti apapun kondisi negara bernama Indonesia ini, seperti apapun dia nyuekin saya dalam pengelolaan dan kebijakan-kebijakannya yang tidak berpihak pada mahluk-mahluk terpinggirkan seperti saya, tetap saja saya cinta mati padanya. Ya. Cinta mati. Sungguh.
Nah, bagaimana menurut kawan-kawan. Apakah kisah cinta tak berbalas ini sekedar kisah cinta buta yang tolol... atau nasionalisme?
“…dan orang-orang tertawa. Aku dungu, kata mereka. ‘Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah peduli! Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah memberimu arti.’ Begitu seru mereka.
Aku tetap mencintainya.
…serangkaian pulau yang dinamai Nusantara. Sebuah bangsa yang sedang dirundung duka. Negara dan bangsa yang mengadopsi nama Indonesia. Aku mencintainya. Cinta mati. Sungguh.” ***
- - -
* Serupa catatan pengantar diskusi untuk Madrasah Falsafah Tobucil; Rabu, 5 November 2008.
** http://d-yanti.blogspot.com/2008/03/cinta-mati.html
*** ibid.
Aku mencintainya…” **
Mukadimah
Pernahkah anda jatuh cinta… sedemikian dalam, dan tak terbalaskan? Ada kerinduan yang menggerogoti hati, yang membuat detak jantung terhentak-hentak seperti mau meledak. Ada gelombang hasrat untuk sekedar dilirik—kalau mungkin sedikit diperhatikan—sedetik saja. Ada gundah karena ‘dia’ tak juga mau hadir untuk menyapa. Ah, setiap kali saya berpikir tentang Indonesia, seperti itu kiranya yang saya rasa.
Menjadi perempuan di sebuah negara bernama Indonesia bukanlah perkara mudah. Pola budaya yang kental dengan kuasa patriarki telak menjadi kerikil tajam yang membuat langkah tertatih nyeri. Kebijakan-kebijakan politik hadir dengan aroma testosteron yang menyengat, acap kali membuat nafas saya tersengal sesak. Dilengkapi aparat publik yang kelewat sibuk berkutat dengan agenda mereka sendiri [dan karena kebanyakan dari mereka lelaki, tak jarang kepentingan perempuan tersisih ke pinggiran jurang].
Frustrasi! Ingin teriak, “Buat apa negara ini kalau kami tak punya ruang buat utuh jadi manusia..?”
Begitulah…
Tapi entah kenapa, cinta saya pada bangsa dan negara ini tak juga lekang. Negara… Negara… Ah, apaan sih negara..?
Selintas Tentang Negara
Bayangkan sebuah wilayah, ruang lepas: tanah, air dan udara. Sekelompok orang tinggal di sana, menghidupi diri mereka dari sumber daya yang tersedia. Menikmati kesuburan tanahnya yang memberi mereka makanan dan penghidupan. Menikmati kekayaan lautnya, dan menghirup udara bebasnya dalam hela nafas mereka.
Lalu kelompok orang ini makin lama makin banyak. Mereka harus mengelola sumber daya yang ada supaya mencukupi buat semua. Mereka juga mesti membuat aturan yang disepakati bersama, supaya tak terjadi konflik yang bisa menghancurkan pola kehidupan mereka yang mulai terasa nyaman. Dan tentu saja, mereka juga harus melindungi diri dari serangan kelompok lain yang mungkin ingin merebut sumber daya yang mereka punya. Untuk itu kelompok manusia di wilayah tadi membentuk suatu pengorganisasian masyarakat yang kita kenal sebagai negara.
Ya, sederhananya, negara adalah sebuah sistem pengorganisasian masyarakat yang serupa tapi tak sama dengan jenis organisasi lainnya yang dikenal umum. Serupa misalnya, karena ada struktur organisasi di sana. Dimana orang-orang yang dianggap kompeten dipilih untuk menduduki jabatan sebagai pengelola negara [: pemerintah]. Namun tentu berbeda juga dengan jenis organisasi lainnya, karena negara punya kuasa yang sangat besar atas warganya. Salah satu perbedaan terbesar antara negara dengan jenis organisasi lain adalah kekuasaan negara untuk mencabut hak hidup warganya.
Dalam pemahaman ketatanegaraan, untuk menjadi sebuah negara ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu: memiliki rakyat, memiliki wilayah, dan memiliki kedaulatan—artinya negara itu mendapatkan pengakuan dari rakyatnya dan pihak-pihak lain di luar dirinya bahwa ia memegang kekuasaan tertinggi atas warga dan wilayah tempatnya berada.
Keberadaan negara biasanya dimaksudkan untuk memudahkan anggotanya [: rakyat] untuk mencapai cita-cita kolektif yang dirumuskan dalam Konstitusi negara. Untuk memudahkan pencapaiannya, negara membuat aturan yang dikenal sebagai hukum. Seiring waktu, negara modern memfasilitasi rakyatnya untuk mencapai cita-cita bersama tadi dengan cara-cara yang lebih demokratis. Bentuk yang paling nyata dari pewujudan cita-cita bersama yang dirumuskan dalam konstitusi tadi adalah dengan adanya pelayanan publik; juga jaminan keamanan bagi rakyatnya. Semakin baik layanan publik yang ada di suatu negara, semakin besar rasa aman yang dihayati oleh rakyatnya, maka semakin baik pula negara itu menjalankan fungsinya.
Jika rakyat yang tinggal di suatu wilayah tertentu mempunyai identitas bersama—maksudnya ada kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya, dan/atau sejarah; maka mereka disebut sebuah bangsa. Dan jika rakyat yang tinggal di wilayah sebuah negara juga merupakan bangsa yang sama, maka negara itu disebut sebagai negara kebangsaan [: nation-state].
Negara Tanda Tanya
Nah, itu tadi soal negara. Mudah-mudahan runutan singkat tadi tidak terlalu memusingkan, sebab kini kita akan mulai memasuki wilayah yang selalu berhasil membuat saya frustrasi sampai meriang tanpa ampun.
Carut marut kondisi sosial-politik-ekonomi di Indonesia sudah sedemikian kompleks dan kusut sehingga saya mesti jujur dan lapang dada mengakui bahwa saya tak sanggup merunutnya dengan baik dalam tulisan ini. Saya cuma bisa berharap, kita sudi sejenak menelaah kenyataan dengan jujur dalam hening: sudahkah negara ini berfungsi dengan optimal sebagai perangkat pencapaian cita-cita bersama kita yang terumus dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan konstitusi negara kita? Apakah pengelola negara [: pemerintah] yang kini memangku jabatan memang merupakan orang-orang pilihan yang kompeten di bidangnya? Sudahkah negara memberikan pelayanan publik yang baik buat rakyat? Sudahkah kita bisa menghela nafas lega dengan rasa aman yang diberikan oleh negara? Adakah kesetaraan dan keadilan bagi setiap warga negara, tak peduli ia kaya atau miskin, perempuan atau laki-laki, apapun suku atau etnisnya? Sudahkah semangat kesetaraan dan keadilan barusan menjadi jiwa dari kebijakan-kebijakan yang dibuat di negara ini?
Ya, memang pertanyaan-pertanyaan di atas biasanya lantas sekedar menjadi retorika saja. Mungkin anda yang sudah merasa bosan dan lelah melihat kekacauan dan ketidakadilan yang membadai di sekeliling akan muak membaca pertanyaan-pertanyaan tadi. Jujur, saya juga sebel. Lalu kalau bosan dan lelah, apakah kita mesti tutup mata, pura-pura nggak tahu terhadap kenyataan pahit yang ada? Apakah baik kalau kita mengingkari kenyataan sekedar karena kita merasa tak punya cukup daya untuk membuat perubahan? Apakah kita mesti berhenti mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi? Dan jika memang ada di antara kita yang pernah mencoba menginisiasi perubahan—dengan berbagai cara semampu kita—hanya untuk mendapati tubuh dan jiwa kita babak belur terdera; apakah semangat berlawan lantas mesti padam? Tidak, kawan-kawan. Sebab saya yakin, kita cuma bisa membuat perubahan ketika kita sudah belajar berdamai dengan kenyataan. Sepahit apapun kenyataan itu adanya.
Akhiran Berujung Entah…
Lelah. Bosan. Kecewa. Frustrasi.
Kira-kira seperti itulah yang saya rasakan kalau sedang tiba-tiba merenungi berbagai hal yang terjadi di negara yang saya cintai ini. Sebagai perempuan rakyat jelata yang tak punya kuasa, saya merasa demikian tidak berdaya. Merasa begitu tersisih dan tak berarti apa-apa.
Gilanya, seperti apapun kondisi negara bernama Indonesia ini, seperti apapun dia nyuekin saya dalam pengelolaan dan kebijakan-kebijakannya yang tidak berpihak pada mahluk-mahluk terpinggirkan seperti saya, tetap saja saya cinta mati padanya. Ya. Cinta mati. Sungguh.
Nah, bagaimana menurut kawan-kawan. Apakah kisah cinta tak berbalas ini sekedar kisah cinta buta yang tolol... atau nasionalisme?
“…dan orang-orang tertawa. Aku dungu, kata mereka. ‘Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah peduli! Untuk apa mencintainya? Ia tak pernah memberimu arti.’ Begitu seru mereka.
Aku tetap mencintainya.
…serangkaian pulau yang dinamai Nusantara. Sebuah bangsa yang sedang dirundung duka. Negara dan bangsa yang mengadopsi nama Indonesia. Aku mencintainya. Cinta mati. Sungguh.” ***
- - -
* Serupa catatan pengantar diskusi untuk Madrasah Falsafah Tobucil; Rabu, 5 November 2008.
** http://d-yanti.blogspot.com/2008/03/cinta-mati.html
*** ibid.
Saturday, October 4, 2008
shh..!
ingin kukoyak topeng tebalmu
guyurkan hujan untuk menghapus riasan manismu
mulut madu bersalut gulagula palsu
membebalkan kupingkuping yang terbuai dustamu.
tubuh rapuhmu persembunyian monster berkepala dua
bercabang lidahnya berbisa; dahi bercula tiga
gelap yang mengalir di nadimu menetes deras -
jauh dari lubuk hatimu nir cahaya.
kau pinta lidahlidah api menggila menjilatmu
katamu, kau ingin bolabola bara menabrakmu
supaya runtuh dunia kecil penuh basabasi merdumu;
kuserukan 'amin!' buat harapmu.
biar luruh semua dustamu.
biar nampak wajah aslimu.
biar lepuh topeng tebalmu.
shh..!
4 oktober 2008 ; 16.13
guyurkan hujan untuk menghapus riasan manismu
mulut madu bersalut gulagula palsu
membebalkan kupingkuping yang terbuai dustamu.
tubuh rapuhmu persembunyian monster berkepala dua
bercabang lidahnya berbisa; dahi bercula tiga
gelap yang mengalir di nadimu menetes deras -
jauh dari lubuk hatimu nir cahaya.
kau pinta lidahlidah api menggila menjilatmu
katamu, kau ingin bolabola bara menabrakmu
supaya runtuh dunia kecil penuh basabasi merdumu;
kuserukan 'amin!' buat harapmu.
biar luruh semua dustamu.
biar nampak wajah aslimu.
biar lepuh topeng tebalmu.
shh..!
4 oktober 2008 ; 16.13
Monday, September 8, 2008
Tentang Kebahagiaan *
“Happy, but for so happy ill secured.”
- Milton
- Milton
“Gue lihat lu jadi pemasalah di Madrasah Falsafah Tobucil Rabu besok. Ngomongin kebahagiaan, ya? Emang lu bahagia?” ujar seorang kawan di penghujung saluran telepon. Entah mengapa ia merasa terdorong untuk menyengaja bertanya setelah melihat di situs Multiply Tobucil bahwa saya bakal menghantarkan obrolan sore tentang kebahagiaan.
Sumbang suara kekeh saya menjawab tanya yang ia serukan. Ya, saya memang tak punya jawaban lain, selain ketawa [setengah] terpaksa yang pasti bakal diprotes Trie Utami karena nadanya tidak pitch. Sejujurnya, mungkin saya adalah orang yang paling tidak kompeten untuk bicara tentang kebahagiaan. Terlebih jika bahagia yang dimaksud mesti memenuhi standar umum yang berlaku di masyarakat kelas menengah tempat saya menetap.
Nggak percaya? Oke, saya perkenalkan diri saya pada anda. Saya seorang perempuan yang tidak menikah, berusia nyaris 35 tahun. Boro-boro menikah, status saya sebagai jomblo permanen sudah kadung kondang di kalangan para teman dan temannya teman-teman. Kondisi ini saja mestinya sudah bisa bikin depresi dan nyaris bunuh diri, mengingat saya tinggal di sebuah komunitas yang meyakini bahwa perempuan mesti selekasnya ’laku’ dinikahi sebelum usia produktifnya untuk beranak-pinak meredup digilas waktu—namun entah kenapa, sejauh ini saya masih betah hidup dan rajin ketawa-ketiwi.
Itu baru soal status berpasangan. Pekerjaan? Hmm, saya mendapat predikat ’orang aneh’ untuk sektor ini. Soalnya saya selama ini bekerja sekedar untuk menafkahi diri sambil bersenang-senang dalam lingkup berbagai komunitas yang menarik buat saya. Segala diskusi dari politik, filsafat, sampai seni rajin saya kunjungi. Itu sih hobi, maka tak terlalu salah jika seorang kawan menjuluki saya mesin diskusi. Nah, menyadari bahwa saya butuh makan dan biaya transport buat berkeliaran dari satu ruang diskusi ke ruang diskusi lainnya, maka saya bekerja sebagai penyiar di salah satu radio swasta. Buat saya sih, ini menyenangkan. Saya tinggal mengoceh tentang berbagai hal yang memang biasanya jadi bahan obrolan sehari-hari dengan teman-teman, memutarkan lagu-lagu yang saya suka, dan dibayar untuk itu semua. Ya, penghasilannya sekedar nyaris cukup, sih. Tapi ya sudah, lah. Toh saya masih punya waktu untuk berkomunitas dan diskusi sana-sini. Jadi kalau bahagia diidentikkan dengan kelimpahan materi, kemampuan untuk membeli apapun yang diinginkan, atau liburan ke luar negeri, mestinya saya jadi manusia yang sangat sengsara. Sebab kebahagiaan dalam bentuk itu nggak bakal saya cecap dengan penghasilan saya sekarang.
Apa lagi? Keluarga saya sama disfungsionalnya dengan banyak keluarga lain. Hubungan afektif saya dengan teman-teman dekat mengalami naik turun serupa roller-coaster di anjungan Halilintar - Dufan. Kondisi mood saya sehari-hari mirip dengan grafik Nikkei di bursa saham. Relasi asmaratif saya babak belur tak berkesudahan.
Nah, kan! Percayalah, jika merunut semua alasan tadi, saya sungguh tidak kompeten bicara tentang kebahagiaan. Sebab, mestinya saya tidak berbahagia. Dan memang sampai hari ini, saya belum pernah mendeklarasikan diri sebagai orang yang berbahagia.
Selepas obrolan singkat dengan teman lewat telepon yang saya singgung di awal tadi, saya mulai merenungkan kebahagiaan. Saya tergerak untuk mengintip beberapa pendapat orang pintar yang tidak berprofesi sebagai dukun untuk mencari tahu makna bahagia di benak mereka. Lantas saya bersinggungan dengan pendapat John Stuart Mill yang merangkum makna bahagia dalam wadah moral. Kira-kira dia bilang kalau kita melakukan kebaikan, maka tindakan itu bakal membawa kita pada kebahagiaan. Ia juga menyamakan kebahagiaan dengan ’kesenangan dan tiadanya kepedihan’ [pleasure and the absence of pain]. Namun ia juga mengakui bahwa elemen ’kesenangan’ atau pleasure tidak hanya mesti hadir dalam kuantitas yang cukup, tapi juga harus memiliki kualitas yang baik. Ia mengelompokkan ’kesenangan’ dalam himpunan ’kesenangan rendah’ [berkait dengan hal-hal badaniah] dan ’kesenangan tinggi’ [kepuasan intelektual, rasa, imajinasi, dan kepuasan moral]**.
Itu kata Mill. Dia memang cerdas sih, tapi saya nggak sepakat sepenuhnya sama pendapat dia. Soalnya, buat saya pendapatnya itu rada kontradiktif. Semacam hibrid antara kesenangan [pleasure] yang sifatnya cenderung hedonistik bersandingan kontras dengan moral yang [kalau merunut tatanan di masa kehidupan Mill] sekaku ranting dan sekeras batu: lempeng, non-fleksibel, nggak ada lucu-lucunya.
Puas ngomelin tulisan Mill, saya lalu mencoba mengintip makna bahagia menurut J. Krishnamurti. Dia bilang, kebahagiaan itu sekedar merupakan efek samping doang; jadi kebahagiaan sebetulnya nggak terlalu penting. Kebahagiaan—atau tepatnya hal yang biasa dianggap kebahagiaan oleh kebanyakan orang—cuma sensasi sejenak yang niscaya bakal lenyap. Buat Krishnamurti, ada muatan esensial dalam kebahagiaan yang sejati. Maka kebahagiaan bukanlah tujuan akhir, sebab ketika ia menjadi tujuan akhir ia kehilangan makna sejatinya. Susahnya, manusia sering salah menyamakan kebahagiaan dengan sensasi yang membuat kita seakan-akan bahagia ***. Misalnya, seorang pemain sepakbola yang berhasil menembus gawang lawan dan mencetak gol akan merasakan sensasi yang melambungkan rasa, serupa dengan bahagia. Demikian juga dengan pegawai yang berhasil mendapatkan sebuah proyek karena presentasinya yang gemilang, atau seseorang yang tengah jatuh cinta dan berhasil ’jadian’. Sensasi. Semua cuma sensasi belaka.
Manusia tak bisa menemukan kebahagiaan dengan cara ini, menurut Krishnamurti. Bahagia sejati bukan sesuatu yang bisa dicari, dikejar, lalu ditangkap. Sebab kita bukan cicak dan bahagia bukanlah nyamuk. Kalaupun kita berusaha mendapatkan kebahagiaan dengan cara ini, yang kita dapat cuma letupan-letupan kecil sensasi serupa bahagia. Yang mencengangkan saya, Krishnamurti sedemikian keukeuh mengatakan bahagia itu nggak bisa dicari; dan kalaupun kita ngotot nyari, nggak mungkin ketemu; sampai-sampai pernyataan itu dia ulang beberapa kali dalam bukunya. Nah, lho! Mampus dah gue!
Saya panik. Sungguh. Tak bisa saya bayangkan hidup ini bakal berakhir tanpa bisa menemukan kebahagiaan. Sialan Krishnamurti! Saya menyesal baca bukunya.
Menyimak pemikiran orang-orang pintar tadi ternyata hanya membawa saya pada dingin gelap kabut kebingungan. Saya merasa sulit menerima kebahagiaan disejajarkan dengan kesenangan belaka, apalagi dikaitkan dengan moral. Ntar dulu! Moral yang kayak gimana maksudnya, dul? Moral mainstream yang male-stream? Huh! Enak aja. Urusan permoralan ini saja bisa jadi bahan diskusi tersendiri. Tapi saya juga nggak terima Krishnamurti bilang bahagia nggak mungkin ditemukan. Kampret! Terus ngapain gue hidup?
Dan selama berjam-jam saya manyun... Hingga saya merasa semakin tidak bahagia dengan mulut saya yang kian maju menyusul ukuran hidung saya yang tak seberapa signifikan. Cermin memantulkan imaji wajah kusut yang tidak karuan. Sebuah pemandangan blo’on yang membuat saya terbahak sendirian. Bukan tawa sumbang kali ini; tulus dan sepenuh hati saya menertawakan wajah, juga ekspresi kebingungan sejati yang terpancar di raut di yang terpantul di cermin itu.
Apakah saya bahagia? Ah, saya tak berhasil menemukan jawabnya. Mungkin saya mencari referensi yang salah. Mungkin saya tersesat pikir dalam mencari maknanya. Atau mungkin... Hey! Mungkin saya mengajukan pertanyaan yang salah.
Lantas saya memberanikan diri mengajukan pertanyaan dari perspektif yang berbeda. Apakah saya tidak bahagia? Nggak tuh. Saya tidak tak-berbahagia. Saya akui, saya memang jarang mengalami letupan sensasi euphoria yang biasanya diterjemahkan orang sebagai kebahagiaan. Tapi saya tak merasa keberatan dengan kondisi itu. Untuk beberapa orang sebagian pandangan saya berkait dengan moral ataupun tatanan nilai dianggap tak biasa. Namun saya telah lama berdamai dengan kenyataan itu, berdamai dengan perbedaan-perbedaan tersebut. Hidup tak selamanya ramah pada saya, namun sejauh ini saya selalu berhasil menemukan makna [sebagian orang menyebutnya hikmah] dari berbagai pengalaman yang pernah saya lalui—pengalaman menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Ada kalanya saya bersentuhan dengan sedih, getir, atau perih. Tapi semua orang memang selalu mendapatkan porsi tersendiri dari semua rasa itu, kan? Emang ada orang yang seumur hidup nggak pernah sedih? Kalau ada yang ngaku-ngaku, saya yakin dia nipu. Lagian, bahkan ketika tersungkur dalam kesedihan yang terkelam sekalipun, saya selalu punya keyakinan bahwa semua itu sementara. Hari ini sedih, kali aja besok semuanya membaik. Sebab, bukankah tiada hal yang abadi di dunia ini?
Sambil merenung, saya iseng membuka-buka buku catatan, hendak mencari inspirasi untuk menuliskan racau yang tengah anda baca ini. Dan saya menemukan sebuah kutipan dari Albert Camus [sayang saya lupa mengutipnya dari buku yang mana]: “In the midst of winter I finally learned that there was in me an invincible summer.”
Ya, jika kebahagiaan sejati dianalogikan sebagai musim panas yang disebut Camus tadi, maka kebahagiaan memang nggak usah dicari. Sebab ia ada. Selalu ada. Nggak bakal ketemu, kalau dicari diluar diri. Kebahagiaan sejati bermukim jauh di kedalaman hati, menanti kita untuk mengalirkannya dalam tiap sel tubuh, dan merembes di tiap rongga pori. Bahagia sejati nggak perlu diwartakan dalam deklarasi. Tanpa suara dan kata, ia memancar dan menginfeksi. Bahagia tak butuh letupan sensasi. Dengan tenang dan sabar ia menunggu kita untuk membiarkannya mendekap tubuh seperti selimut hangat yang melindungi dari dingin nan sunyi. Kebahagiaan bukan benda; ia tak bisa dimiliki, direbut, atau didominasi. Kebahagiaan bahkan tak butuh alasan untuk mewujud; kitalah yang mesti memelihara kesadaran bahwa ia tak pernah absen ataupun meredup. Kebahagiaan adalah sebuah perjalanan sukacita untuk menjadi.
Jadi, berbahagialah! Sekian dan terimakasih.
3 September 2008 ; 01.24
_________________________
* semacam catatan pengantar obrolan Rabu Sore di Madrasah Falsafah Tobucil Bandung, 3 September 2008
** John Stuart Mill, Utilitarianism
*** J. Krishnamurti, Reflections on the Self
Subscribe to:
Posts (Atom)

